<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Pahlevy191103&#039;s Blog</title>
	<atom:link href="http://pahlevy191103.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://pahlevy191103.wordpress.com</link>
	<description>&#34;Setiap Manusia Adalah Guru..Dan Setiap Tempat Adalah Sekolah&#34;</description>
	<lastBuildDate>Wed, 03 Mar 2010 21:19:00 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='pahlevy191103.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Pahlevy191103&#039;s Blog</title>
		<link>http://pahlevy191103.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://pahlevy191103.wordpress.com/osd.xml" title="Pahlevy191103&#039;s Blog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://pahlevy191103.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Cinta yang Dibungkus Kafan</title>
		<link>http://pahlevy191103.wordpress.com/2010/01/23/cinta-yang-dibungkus-kafan/</link>
		<comments>http://pahlevy191103.wordpress.com/2010/01/23/cinta-yang-dibungkus-kafan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 23 Jan 2010 23:24:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pahlevy191103</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita-Cerita]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta Kasih]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi Diri]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pahlevy191103.wordpress.com/?p=695</guid>
		<description><![CDATA[Rosdiah memang pantas membuat setiap lelaki Desa Sattu tergila-gila. Rosdiah, tidak sebagaimana pada umumnya gadis-gadis lain di desa tersebut, kulitnya putih bersih. Wajahnya bundar persis bulan purnama yang sempurna. Jika sedang malu, terlihat tanda kemerah-merahan di pipinya. Matanya akan berbinar-binar seperti bintang-gemintang bila diajak bicara. Itu menciptakan kesan bahwa di dasar matanya tersebut terdapat telaga [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pahlevy191103.wordpress.com&amp;blog=10803553&amp;post=695&amp;subd=pahlevy191103&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Rosdiah memang pantas membuat setiap lelaki Desa Sattu tergila-gila. Rosdiah,  tidak sebagaimana pada umumnya gadis-gadis lain di desa tersebut, kulitnya putih  bersih. Wajahnya bundar persis bulan purnama yang sempurna. Jika sedang malu,  terlihat tanda kemerah-merahan di pipinya.</p>
<p>Matanya akan berbinar-binar seperti bintang-gemintang bila diajak bicara. Itu  menciptakan kesan bahwa di dasar matanya tersebut terdapat telaga keriangan.</p>
<p>Meski kerudung panjang dan baju kurung selalu rapi membungkus tubuh  semampainya, tidak berarti tertutup keindahan pada tubuh itu. Toh cara berjalan  remaja yang tahun ini baru saja menyelesaikan sekolah ibtidaiah  melenggak-lenggok bak seorang peragawati.</p>
<p>Tidak ada yang tahu di mana Rosdiah mempelajari cara berjalan demikian.  Apakah melalui tontonan di televisi? Apakah di kota saat dia berkunjung ke sana?  Tidak ada warga desa yang mengetahui persis.</p>
<p>Bagi para lelaki, yang muda maupun yang telah beristri, itu bukan hal penting  untuk diketahui. Bagi mereka jauh lebih penting memikirkan cara menarik hati  Rosdiah. Menuntaskan hasrat yang selama ini terpendam dalam-dalam.</p>
<p>Atas desakan hasrat itu pula, Karaeng Beta mengikhlaskan dirinya dalam  perjuangan yang teramat besar baginya di malam ini.</p>
<p>***</p>
<p>Sebenarnya Karaeng Beta tidak perlu merepotkan diri dengan melakukan semua  itu. Kalau benar-benar mau dia akan mudah menjinakkan Rosdiah dengan harta yang  dimiliki dan kebangsawanan yang dia sandang. Tentu Rosdiah, kedua orang tua,  serta keluarga besarnya pun tidak akan sanggup menahan keinginan bersuamikan dan  bermenantukan seorang karaeng. Harapan yang juga dipendam para gadis dan  orang tua lainnya.</p>
<p>Tetapi Karaeng Beta punya pertimbangan lain. Dia tahu kalau bukan hanya  dirinya yang <em>kepincut</em> kecantikan Rosdiah. Hampir semua lelaki di Desa  Sattu menaruh hati padanya. Tidak terkecuali putra sulung wakil bupati dan anak  remaja kepala kecamatan yang saban sore <em>nongkrong</em> di rumah Rosdiah.  Bagi Karaeng Beta, kedua pemuda ini menjadi pesaingnya mendapatkan Rosdiah  karena orang tua mereka adalah pejabat kabupaten.</p>
<p>Karena Karaeng Beta tahu bahwa setiap lelaki yang menaruh hati pada Rosdiah  akan meminta bantuan Daeng Bonto, maka dia juga melakukan hal yang sama. Dia  malah bersedia memberi upah lebih besar dari bayaran yang biasa diminta Daeng  Bonto, dukun yang telah malang-melintang dan jarang gagal menangani urusan  jodoh. Dengan bayaran lebih besar, ditambah janji bonus yang akan diserahkan  kepada Daeng Bonto, Karaeng Beta mengusung keyakinan tinggi akan menjadi  pemenang dalam persaingan memperebutkan Rosdiah.<span id="more-695"></span></p>
<p>Sebab itu, dia juga telah menyusun rencana mengajak Rosdiah  <em>silariang</em>. Dia akan membawa sang pujaan hati ke tempat yang jauh.  Kalau perlu, dia akan membawa Rosdiah ke Sumatera atau Papua sehingga  keluarganya, termasuk anak dan istri, tidak bisa melacak keberadaan mereka.</p>
<p>Tentu seluruh warga desa akan dibuat gempar jika dia dan Rosdiah  <em>silariang</em>. Warga akan membicarakan perihal dirinya yang lebih pantas  menjadi bapak dari Rosdiah. Apalah dia yang seorang <em>karaeng</em> hanya  mengawini gadis biasa dengan kekayaan yang tidak seberapa.</p>
<p>Istri, anak-anak, dan keluarga besar Karaeng Beta akan menyerang keluarga  Rosdiah dengan kata-kata yang melecehkan. Bila dengan cara itu belum cukup  menawar sakit hati, segalanya mungkin akan berakhir dengannya pecahnya kaca-kaca  jendela rumah Rosdiah karena lemparan batu.</p>
<p>Keluarga Rosdiah niscaya tidak akan membalas perbuatan keluarga Karaeng Beta.  Secara kultur mereka telanjur dianggap bersalah karena mengingkari nilai-nilai  kepantasan.</p>
<p>Kegundahan hati akibat pelecahan tersebut diredam dengan kesabaran. Mereka  hanya membuka mulut kepada para tetangga tanpa memiliki keberanian untuk  berhadap-hadapan langsung dengan keluarga Karaeng Beta.</p>
<p>Tetapi kegundahan keluarga Rosdiah itu hanya ibarat busa di lautan yang  dengan mudah dihempaskan gelombang kegembiraan tiada tara. Dalam hati, keluarga  besar Rosdiah akan bersorak kegirangan karena berhasil berkerabat dengan turunan  karaeng.</p>
<p>Lalu, warga desa akan saling berbisik; gadis tidak tahu malu, percuma dia  berkerudung panjang kalau dengan gampangnya diajak <em>silariang</em>.</p>
<p>Ibu-ibu yang memiliki anak gadis yang paling terpukul, sekaligus dilematis.  Satu sisi, mereka merasa anak-anak gadisnya telah kalah oleh Rosdiah. Tapi di  lain sisi, mereka senang karena akan terbebas dari tugas sampingan menjagai  secara diam-diam suami mereka dari pesona Rosdiah.</p>
<p>***</p>
<p>Dan pada waktu yang telah ditetapkan, malam Jumat di bulan tua, Karaeng Beta,  telah mempersiapkan segalanya. Bunga mawar merah, sepotong kain baju  <em>bodo&#8217;</em> merah tua, linggis kecil, dan sebotol air yang telah diberi  berkah Daeng Bonto.</p>
<p>Dia harus menunggu istri dan anak-anaknya tertidur untuk melaksanakan  hajatnya. Karaeng Beta telah mencampurkan air penerbit rasa kantuk ke minuman  mereka menjelang petang. Memasukkan sepuluh biji beras merah pemberian Daeng  Bonto ke dalam sarung bantal mereka. Tujuannya agar mereka tidur lebih cepat dan  nyenyak. Daeng Bonto berulang kali mengingatkannya agar tidak seorang pun  mengetahui dan melihatnya malam ini.</p>
<p>Prosesi <em>appataba</em> harus mengikuti setiap ketentuan sebagaimana  anjuran dukun. Apalagi, dukun sekaliber Daeng Bonto yang sudah tersohor dan  disegani ilmunya itu. Menyalahi syarat <em>appataba</em> bisa berakibat fatal  bagi yang melakukan.</p>
<p>Salma, perawan tua Haji Natsir, merasakan akibat dari kesalahan  <em>appataba</em>. Menurut cerita yang berkembang, dia lupa menyiramkan air  berkah pada mawar merah yang telah dia tanam. Kini, pada setiap tengah malam,  dia berteriak-teriak tak kuasa menahan panas di seluruh tubuh.</p>
<p>Soal kepercayaan warga desa terhadap perdukunan memang sudah turun-temurun.  Bahkan sebelum dokter-dokter datang ke desa dan puskesmas-puskesmas didirikan,  dukun-dukun dirujuk bila ada warga desa yang sakit. Kadang mereka sembuh. Namun,  tidak sedikit yang justru semakin memburuk dan akhirnya meninggal.</p>
<p>Dahulu terdapat sejumlah dukun yang menetap di Desa Sattu dan desa-desa  sekitarnya. Seiring waktu jumlahnya berkurang. Banyak di antara para dukun  tersebut meninggal dunia. Anak-anak mereka lebih senang bekerja di kota  ketimbang mewarisi ilmu perdukunan.</p>
<p>Ada juga cerita lain soal berkurangnya jumlah dukun. Katanya, sebagian dari  mereka alih profesi setelah para ustaz intens menyampaikan kepada warga desa  bahwa <em>appataba</em> termasuk perbuatan dosa. Imam desa, pada setiap  ceramah tarawih di bulan Ramadan, tidak pernah lupa menyisipkan tema larangan  <em>appataba</em> karena bisa menyebabkan celaka bagi siapa pun yang terlibat  di dalamnya.</p>
<p>Sekarang tersisa Daeng Bonto dan Daeng Tarang, dukun dari Desa Camba. Ada  kesepakatan umum yang mengganggap ilmu keduanya setingkat. Kemampuan keduanya  sama.</p>
<p>Tetapi Daeng Bonto lebih dikenal sebagai dukun yang menguasai soal cinta dan  perjodohan. Dia dikenal dengan ajian bunga mawar merah dan sepotong kain baju  <em>bodo&#8217;</em>. Sedangkan Daeng Tarang dengan tiga jarum yang dibungkus  potongan kain kafan siap membalaskan sakit hati dan amarah. Jadilah Daeng Bonto  menjadi simbol kehidupan, sementara Daeng Tarang perlambang kematian.</p>
<p>Dan ketika malam merangkak semakin larut, Karaeng Beta telah begitu dekat ke  rumah Rosdiah, sang gadis pujaan. Dia berharap Rosdiah ada di rumah malam ini.  Demikianlah syarat yang diminta Daeng Bonto. Lagi pula, kalau Rosdiah tidak di  rumah malam-malam begini, ke mana seorang gadis desa akan pergi, dan berkerudung  pula, sepulang berjemaah isya di surau?</p>
<p>Sebenarnya jika melewati jalan desa, jalan yang baru saja dilakukan  pengaspalan dan didirikan tiang-tiang lampu jalanan, jarak ke rumah Rosdiah  hanya butuh sepuluh menit berjalan kaki.</p>
<p>Tetapi demi menjaga kerahasiaan, Karaeng Beta mengambil jalur lain. Dia  berjalan di bawah cahaya bulan tua yang suram dengan penerangan lampu senter  kecilnya. Menyusuri anak sungai yang berbatu-batu dan licin, menyisir ladang  jagung luas, dan membelah kebun bambu.</p>
<p>Dia harus merelakan kakinya lecet terentuk batu kali, atau menahan rasa gatal  tergores daun-daun jagung, juga membuang perasaan gentar atas jeritan  batang-batang bambu yang bergesetan kala diterpa angin. Belum lagi rasa khawatir  kalau-kalau berpapasan kawanan anjing liar dan lapar yang bisa menjadi sangat  berbahaya karena sewaktu-waktu menyerang.</p>
<p>Dari balik kebun pisang, di belakang rumah Rosdiah, Karaeng Beta mengintai  hingga benar-benar yakin tidak ada orang yang mengetahui keberadaan dirinya.  Dengan cermat dia memperhatikan rumah Rosdiah dan rumah-rumah sekitarnya,  menanti hingga lampu-lampu di rumah tersebut dipadamkan, ditinggal tidur  penghuninya.</p>
<p>Saatnya tiba. Karaeng Beta keluar dari persembunyiannya. Berjalan perlahan  dan sangat pelan menuju kolong rumah Rosdiah&#8211;rumah khas Makassar adalah rumah  panggung dan memiliki tangga. Jantungnya berdegub keras. Dengan susah payah dia  mengatur napas yang seperti memburu.</p>
<p>Karaeng Beta kini tepat di bawah tangga rumah Rosdiah. Dia membungkukkan  tubuhnya saat berjalan ke anak tangga paling bawah. Sebagaimana lazimnya  rumah-rumah di Desa Sattu, batu penyanggah tangga adalah batu besar setinggi  kurang lebih empat puluh sentimeter yang diambil dari pegunungan. Ini memberi  ruang yang cukup baginya membuang lubang di bawah anak tangga pertama dengan  posisi badan yang nyaman.</p>
<p>Dia harus membuat lubang tepat di bawah anak tangga rumah Rosdiah. Membungkus  bunga mawar dengan potongan kain baju <em>bodo&#8217;</em> dan menguburnya. Menutup  lubang sedemikian rapi dan rata hingga tidak tampak bekas galian. Kemudian  menyiramnya dengan air berkah Daeng Bonto.</p>
<p>Ketika menghujamkan linggis kecil ke tanah, tangannya bergetar hebat. Mata  linggis seperti membentur tanah liat kering meski kenyataannya hanyalah tanah  biasa yang masih basah karena hujan seharian kemarin.</p>
<p>Keringat dingin mulai bercucuran di kedua pelipis yang sesekali dia sapu  dengan lengan bajunya. Karaeng Beta terus menggali sambil berusaha agar bunyi  linggis yang membentur tanah tidak lebih besar dari suara jangkrik. Dia tidak  ingin orang-orang di rumah Rosdiah terbangun.</p>
<p>Pada kedalaman lubang seperti yang dia inginkan, tiba-tiba dia terkejut  dengan penemuan yang tidak dia harapkan; sebungkus potongan kain kafan yang  berisi tiga jarum. Amarah dan rasa penasaran berbaur menjadi satu. Dia tahu  <em>pappataba</em> itu milik Daeng Tarang. Tetapi, siapakah yang telah  mengirimkan <em>pappataba</em> tersebut kepada Rosdiah? Siapakah yang justru  ingin mencelakai, bahkan membunuh, Rosdiah?</p>
<p>Karaeng Beta mencoba membuat lubang di samping lubang yang pertama. Namun  hasil yang dia dapat tetap sama, tiga jarum yang dibungkus potongan kain kafan.  Demikian seterusnya hingga sepuluh lubang yang dia buat. Lubang-lubang yang  lebih menguras emosi ketimbang tenaganya.</p>
<p>Amarahnya memuncak. Otot wajahnya mengeras. Giginya gemertak. Namun dia tetap  menggali lubang. Terlintas dipikirannya menghubungi Daeng Tarang dan Daeng Bonto  keesokan hari untuk meminta penawar <em>pappataba</em>. Tetapi dia buang  pikiran itu saat menemukan mawar merah di dalam bungkusan kain kafan pada lubang  ke sebelas.</p>
<p>Cerpen                                                                                     <a href="http://www.sriti.com/story.php?writer=832">Ahmad Syam </a> <a href="popUp('writePop.php?key=832')"><img src="http://www.sriti.com/images/profile.gif" border="0" alt="Silakan Simak!" /></a><br />
Dimuat di                                                                                         <a href="http://www.sriti.com/story.php?media=31">Lampung post </a> <a href="http://www.lampungpost.com/" target="_blank"><img src="http://www.sriti.com/images/home.gif" border="0" alt="Silakan Kunjungi Situsnya!" width="8" height="8" /></a> 03/29/2009 Telah Disimak 426 kali</p>
<br />Posted in Cerita-Cerita, Cinta Kasih, Motivasi Diri Tagged: Cerita Motivasi, Cinta Kasih, Motivasi <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pahlevy191103.wordpress.com/695/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pahlevy191103.wordpress.com/695/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pahlevy191103.wordpress.com/695/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pahlevy191103.wordpress.com/695/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pahlevy191103.wordpress.com/695/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pahlevy191103.wordpress.com/695/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pahlevy191103.wordpress.com/695/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pahlevy191103.wordpress.com/695/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pahlevy191103.wordpress.com/695/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pahlevy191103.wordpress.com/695/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pahlevy191103.wordpress.com/695/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pahlevy191103.wordpress.com/695/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pahlevy191103.wordpress.com/695/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pahlevy191103.wordpress.com/695/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pahlevy191103.wordpress.com&amp;blog=10803553&amp;post=695&amp;subd=pahlevy191103&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pahlevy191103.wordpress.com/2010/01/23/cinta-yang-dibungkus-kafan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2742147182cd8818682b023f2affae35?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">pahlevy191103</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.sriti.com/images/profile.gif" medium="image">
			<media:title type="html">Silakan Simak!</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.sriti.com/images/home.gif" medium="image">
			<media:title type="html">Silakan Kunjungi Situsnya!</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Apakah Aku Selingkuh?</title>
		<link>http://pahlevy191103.wordpress.com/2010/01/23/apakah-aku-selingkuh/</link>
		<comments>http://pahlevy191103.wordpress.com/2010/01/23/apakah-aku-selingkuh/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 23 Jan 2010 23:20:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pahlevy191103</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita-Cerita]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta Kasih]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi Diri]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Kejujuran]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pahlevy191103.wordpress.com/?p=693</guid>
		<description><![CDATA[Berkunjunglah di ranah ini lagi. Ingin kutemui segala bentuk ocehan filusufmu, humor estetismu, dan kritik agamismu. Tatap matamu yang berbinar melewati kaca mata bening sungguh amat kurindukan. Datanglah meski sekejap, seperti dulu, mengomentari judul buku yang tertarik kau beli. Aku lupa nama lengkap penulis-penulis buku yang membuat Kita berkenalan. Yang kuingat aku menyapamu duluan Di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pahlevy191103.wordpress.com&amp;blog=10803553&amp;post=693&amp;subd=pahlevy191103&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Berkunjunglah di ranah ini lagi. Ingin kutemui segala bentuk ocehan filusufmu, humor estetismu, dan kritik agamismu. Tatap matamu yang berbinar melewati kaca mata bening sungguh amat kurindukan. Datanglah meski sekejap, seperti dulu, mengomentari judul buku yang tertarik kau beli.</p>
<p>Aku lupa nama lengkap penulis-penulis buku yang membuat Kita berkenalan. Yang kuingat aku menyapamu duluan Di sebuah rak paling sudut, di situ berjejer buku-buku sastra. Mungkin kala itu aku terpaksa melakukan sapaan padamu. Awalnya aku hanya mondar-mandir sambil menunggu kau habiskan membaca buku bagus itu. Lama sekali ini cewek, pikirku.</p>
<p>&#8220;Siang, mbak penggila buku Nadya ya?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tidak juga, aku suka karena ia jujur dalam menulis. Dan Ia membeberkan seksualitas sedetil-detilnya. Dan menurut saya itu tidak terkesan Vulgar seperti yang dikatakan banyak orang&#8221;</p>
<p>&#8220;Emm.. saya tidak bertanya sedetil itu kok. Oh ya.. saya Surya&#8221;</p>
<p>&#8220;Saya Yuana&#8221; telapakmu sungguh halus. Tak seperti kertas, tapi kapas.</p>
<p>Kekesalanku redam karena sikap ramah yang membuatmu tambah cantik. Penampilanmu yang tak seperti kekasihku, menghanyutkan, membuat aku ingin mengenalmu lebih.</p>
<p>Entah kebetulan atau tidak, kita sering bertemu, mengobrolkan kenapa tak ada karya Nadya yang baru, kenapa buku Anton Chekov cepat habis terbeli, mengapa karya Chairil Anwar masih tetap laku. Setelah mengeruk hal-hal tentang penulis terkenal, biasanya kita akan membahas apa itu manusia, apakah Tuhan telah mati seperti yang dikatakan Nietche, apakah moral dapat membasmi kejahatan. Oh.. sungguh obrolan yang mencerahkan.<span id="more-693"></span></p>
<p>Meskipun hanya sekejap dapat kurasakan nikmat yang luar biasa dari setiap pertemuan kita. Semua mimik kegembiraan ada di situ. Dan ketika kita saling melepas pulang, maka kerinduanku ini mulai bertumbuh lagi padamu. Dan yang lebih menyakitkan, aku harus kembali menemani kekasihku berbelanja di Mall. Oh tidak. Kenapa dulu aku tak tahu kalau ia penggila keranjang dorong. Padahal saat aku belum punya kekasih, aku dan seorang teman laki-lakiku paling senang berbisik geli. Ya, menertawakan dari jauh pasangan yang kelihatannya berpacaran.</p>
<p>&#8220;Kau lihat itu, kasihan ya laki-laki itu. Senyumnya pahit. Tangannya tak bisa lepas dari gandengan ceweknya. Dan Kau lihat apa yang ada di keranjang dorong mereka. Aha..pembalut menumpuk di situ.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, pasti menyedihkan. Tapi sudahlah. Kita jangan bernyanyi melihat makhluk sejenis kita menderita. Siapa tahu kita akan bernasib sama jika telah punya pacar&#8221;</p>
<p>Aku terkena karmanya kini. Barangkali senyumku lebih pahit dibandingkan dengan laki-laki yang dulu aku tertawakan. Bukan hanya pembalut yang ia beli, tapi benda pencuci dari aroma sirih, obat keputihan, kosmetik beragam merk harus kulihat, tanganku tak seperti digandeng olehnya, tapi seperti dirantai!!!</p>
<p>Setelah selesai menemaninya belanja, ia sungguh pandai merayu agar aku tidak kapok menemaninya belanja.</p>
<p>&#8220;Sayang, silahkan minta apa saja. Aku tahu kau tak betah tadi&#8221;</p>
<p>&#8220;Sebungkus rokok saja&#8221; jawabku.</p>
<p>&#8220;Hu..apakah benda itu saja yang kau inginkan. Apa tidak ada yang lain?. Mubasir khan membakar uang?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tidak mau ya sudah, aku Ikhlas menemanimu&#8221;</p>
<p>Walau luluh dengan kata-kataku, Ia sebenarnya kesal karena aku tak menginginkan barang lain yang lebih awet dan tahan lama. Namun, demi manghargaiku, terpaksa atau tidak, ia akhirnya membelikanku rokok seperti permintaanku.<!--more--></p>
<p>Seperti hari ini, aku bersama kekasihku, mengitari gedung lima lantai yang ber-AC. Kali ini ia tidak membeli pembalut, tapi memuaskan matanya berjalan-jalan melihat benda-benda konsumsi orang kota. Setelah menyeleksi dengan tatapan konsumtifnya, ia memilih mana pakaian minim model terbaru, mana piyama transparan yang seksi. Dan mana-mana barang lain yang membuatnya terpikat.</p>
<p>Hingar bingar Mall membuat Dua jam serasa memenjaraku berminggu-minggu. Ada 6 bungkus plastik putih yang kupegang, sungguh membuatku seperti kurir pengangkut barang di stasiun. Dan bosnya adalah kekasihku sendiri. Meski kesal, Tak pernah kutanyakan mengapa ia begitu boros, aku takut ia tersinggung dan akupun tak dibelikannya rokok. Aku lebih memperdulikan rokok, teman pembuang risau, daripada label lelaki matre yang mungkin hinggap padaku ketika aku minta yang macam-macam.</p>
<p>Kurebahkan diri di sebuah kasur kecil. Dalam lelah sepulang mengantar Bos besar yang sering kujilat dengan kata sayang itu, aku malah mengingatmu. Ya, aku mengingatmu,Yuana. Kekasihku yang feminis habis tersebut, tak ada sama sekali dalam penerawangan alam pikiranku.</p>
<p>Kedua lututku berdiri tegak menyangga kepala yang tertunduk melamun. Aku merasa bersamamu, kumenemukan dunia impian yang membawaku pada wicara yang membangun. Tak ada cinta, hanya kekaguman dari kecerdasanmu. Sampai rokok ke tujuh yang kusulut, akhirnya kuputuskan menelpon. Aku ingin bertemu denganmu di tempat biasa, Toko Buku. Tapi tiba-tiba keraguan muncul berhamburan mencegah keinginanku. Aku merasa, jika aku menemuimu, maka aku telah mengkhianati kekasihku. Dengan kata lain, aku berselingkuh. Atau setidaknya aku mencoba melakukan perencanaan perselingkuhan. Sudahlah, sebaiknya aku tidur saja. Siapa tahu dalam mimpi, aku melihat kekasihku menjelma menjadi yuana. Di sana aku akan berjalan dengan kekasihku di Toko buku, membicarakan Penulis hebat, buku terbaru, buku bestseller dan novel klasik yang menarik.</p>
<p>Gerimis datang sebentar. Langit hening sejenak dan tiba-tiba saja hujan deras mengguyur apa saja yang di bawahnya.</p>
<p>Aku seperti didendangkan musik. Ya, musik alam yang membuat mataku akhirnya redup di sebuah tilam kecil.</p>
<p>**</p>
<p>Baru dua jam aku tidur, hujan telah berhenti. Aku terjaga oleh musik dering Hpku.</p>
<p>&#8220;Mas, tolong antarkan aku ya&#8221; suara perintah itu kembali mengacaukan tidurku.</p>
<p>&#8220;Kemana? Semua Mall di kota ini sudah kita jelajahi selama kita pacaran, apakah kau tidak bosan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Hey.. ada apa ini, mengapa pertanyaan itu baru kudengar?&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku bosan, muak, jengah, sudahlah kau ajak temanmu saja. Aku masih ngantuk.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ucapanmu kasar sekali, tak seperti biasanya. Kalau begitu, Baiklah, lanjutkan saja tidurmu.&#8221;</p>
<p>Aku tak peduli lagi mau kemana kekasihku. Aku sudah terlalu sabar dengan hidupnya yang penuh Hura-hura dan keramaian. Lebih baik Aku melanjutkan lagi mimpiku yang tadi terhenti. Dan tahukah apa yang ada dalam mimpiku tadi, kekasihku menjelma menjadi Yuana yang kutu buku. Oho..menyenangkan sekali. Tapi, apakah mimpi yang terhenti dapat berlanjut?. Kalaupun bisa, pastilah jarang terjadi.</p>
<p>Aneh memang. Sesuatu yang jarang itu ternyata kudapati. Mimpiku bersambung. Kekasihku hampir sama dengan Yuana, berkacamata dengan stelan kaos oblong dan celana jeans tidak terlalu ketat. Tasnya tidak bermotif kembang seperti di dunia nyata, tapi modelnya mirip tas saku pendaki gunung. Aha&#8230; penampilannya tidak feminis benar, tapi ia sangat cantik menurutku.</p>
<p>Hatiku gamang, carut marut merasuki segenap perasaan. Tiba-tiba rasa bersalah bermunculan dibenakku. Oh&#8230; aku harus menghentikan mimpi ini, berkhianat namanya jika aku terbuai di dalamnya. Akulah pencetak mimpi itu, dan aku harus segera membubarkan mimpi yang baru kusadari adalah bentuk harapanku yang pupus di dunia nyata. Aku tak boleh membuat kekasihku sama persis penampilan, gaya bahasa, perilakunya dengan Yuana. Aku masih mencintai kekasihku, tapi bukankah aku merasa nyaman dengan segala hal yang dikesankan oleh Yuana? Nah, aku tambah bingung kini, apa aku harus mendobrak ketidakterjagaanku ini? Ya, sisi lain yang sangat kuat, memang aku masih berharap kekasihku sedikit menyerupai Yuana, paling tidak ia bukan tukang belanja. Kalau boleh minta lebih, aku juga ingin kekasihku punya pola pikir yang matang layaknya Yuana. Tidak manja dan penuh emosional.</p>
<p>Ah&#8230; sudahlah aku hentikan atau tidak mimpi ini, toh nanti pada akhirnya aku akan terjaga ketika alarmku berbunyi lantang. Artinya biarkan saja mimpi ini apa adanya. Mau dibilang selingkuh, terserah. Mau dibilang pasrah, ya tidak mengapa. Biarkan saja ia mengalir semaunya. Mau ada kuda terbang, istana, mahkota, kucing yang bicara atau tanduk yang tumbuh di antara anak rambutku, aku sudah tak peduli lagi. Yang penting aku sadar kalau itu hanya mimpi semata. Memang baru ini, aku punya kesadaran di dalam mimpi, biasanya aku selalu menganggap kalau kuda terbang, istana, mahkota, kucing yang bicara atau tanduk yang tumbuh di antara anak rambutku, benar-benar nyata. Dan aku baru menyadarinya kalau itu mimpi ketika cahaya memaksa mataku terbuka.</p>
<p>Cukup lama cerita mimpi itu berlangsung, kira-kira dari jam delapan malam sampai subuh menjelang pagi. Dan kini Lega rasanya saat telah terjaga. Pagi mengirim cahaya terbaiknya menerobos lubang ventilasi jendela. Aku telah kembali dalam dunia nyata. Kulangkahkan kaki menuju luar kamar. Dengan mengucek mata aku tak percaya kalau kekasihku sudah tampak murung di sofa ruang tamu. Kapan ia datang, kenapa pula tak berusaha membangunkanku?. Ada apa ini? Tak biasanya ia datang tiba-tiba dan dengan wajah masam pula. Pasti ada hal yang membentuknya garis wajahnya tampak jelek itu. Tak ada senyum meski secuil.</p>
<p>&#8220;Aku ingin kita putus&#8221; airmatamu tiba-tiba membanjiri rasa bingungku.</p>
<p>&#8220;Hey&#8230; ada apa kau ini? Belum juga sempat mengucapkan selamat pagi, tiba-tiba saja kau berkata seperti itu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kau telah mengkhianatiku, kau sudah selingkuh!&#8221;</p>
<p>&#8220;Apa buktinya?&#8221; aku menjawab dengan tenang, karena aku memang tak merasa melakukan selingkuh ataupun telah menduakannya, kecuali dalam mimpi. Apa salahnya selingkuh dalam mimpi?. Orang lainpun kurasa pernah mengalaminya. Dan aku tahu mimpi tak selamanya harus diceritakan pada orang lain. Dan satu lagi, yang kuajak kencan dalam mimpi semalampun itu adalah kekasihku sendiri. Hanya karakternya saja yang seperti orang lain, yakni Yuana, gadis idealku.</p>
<p>&#8220;Mimpimu semalam. Tadi ketika aku ke kamarmu, kulihat dan kudengar engkau menyebut-nyebut nama wanita lain.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ha&#8230; kau ini aneh. Sungguh sangat amat aneh sekali. Ayolah jangan bercanda.&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku tidak bercanda, aku benar-benar mendengar igauanmu barusan&#8221;</p>
<p>Aku amat bingung dengan situasi seperti ini, apa yang dikatakan kekasihku sepenuhnya benar. Tapi itu hanya mimpi.</p>
<p>&#8220;Baiklah aku akui aku bermimpi seperti yang kau katakan. Ya, aku mengalaminya tadi malam. Tapi apakah ini adil jika keadaan mimpi harus dibayar kesalahannya dalam kenyataan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Bagiku adil, karena menurutku mimpimu adalah separuh kenyataan dari harapanmu selama ini. Ya, kau tak mencintaiku lagi&#8221;</p>
<p>Esok harinya kutemui lagi engkau di tempat biasa. Kekasihku kini telah pergi, karena kesetiaanku telah gagal dalam mimpi dan kenyataan. Ia tak percaya padaku karena mimpi selingkuhku yang seharusnya tak dirisaukannya. Tapi sudahlah, dari pada mengejar kembali yang sudah berlalu, lebih baik aku berusaha mewujudkan mimpiku semalam benar-benar nyata. Dan kulihat engkau memupuskan harapan keduaku. Engkau bergandeng mesra dengan laki-laki berkacamata di antara rak-rak buku.</p>
<p>&#8220;Engkau Selingkuh&#8221; umpatku dalam hati. Tapi kapan aku jadi milikmu, yuana?</p>
<p>Cerpen                                                                                     <a href="http://www.sriti.com/story.php?writer=756">Bazaruddin Ahmad </a> <a href="popUp('writePop.php?key=756')"><img src="http://www.sriti.com/images/profile.gif" border="0" alt="Silakan Simak!" /></a><br />
Dimuat di                                                                                         <a href="http://www.sriti.com/story.php?media=38">Pontianak Post </a> <a href="http://www.sriti.com/www.pontianakpost.com" target="_blank"><img src="http://www.sriti.com/images/home.gif" border="0" alt="Silakan Kunjungi Situsnya!" width="8" height="8" /></a> 11/30/1999 Telah Disimak 3456 kali</p>
<br />Posted in Cerita-Cerita, Cinta Kasih, Motivasi Diri Tagged: Cerita Motivasi, Cinta Kasih, Kejujuran, Motivasi <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pahlevy191103.wordpress.com/693/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pahlevy191103.wordpress.com/693/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pahlevy191103.wordpress.com/693/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pahlevy191103.wordpress.com/693/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pahlevy191103.wordpress.com/693/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pahlevy191103.wordpress.com/693/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pahlevy191103.wordpress.com/693/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pahlevy191103.wordpress.com/693/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pahlevy191103.wordpress.com/693/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pahlevy191103.wordpress.com/693/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pahlevy191103.wordpress.com/693/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pahlevy191103.wordpress.com/693/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pahlevy191103.wordpress.com/693/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pahlevy191103.wordpress.com/693/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pahlevy191103.wordpress.com&amp;blog=10803553&amp;post=693&amp;subd=pahlevy191103&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pahlevy191103.wordpress.com/2010/01/23/apakah-aku-selingkuh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2742147182cd8818682b023f2affae35?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">pahlevy191103</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.sriti.com/images/profile.gif" medium="image">
			<media:title type="html">Silakan Simak!</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.sriti.com/images/home.gif" medium="image">
			<media:title type="html">Silakan Kunjungi Situsnya!</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Perempuan Hujan</title>
		<link>http://pahlevy191103.wordpress.com/2010/01/23/perempuan-hujan/</link>
		<comments>http://pahlevy191103.wordpress.com/2010/01/23/perempuan-hujan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 23 Jan 2010 23:17:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pahlevy191103</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita-Cerita]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta Kasih]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi Diri]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pahlevy191103.wordpress.com/?p=691</guid>
		<description><![CDATA[“AKU suka hujan,” kata perempuan di sebelah Bram, bak nyeletuk. “Ya?” Bram menengok. “Oh, mengapa begitu?” susulnya buru-buru. “Gemeretak suara hujan di atas genteng selalu membawaku ke mana-mana,” kata perempuan itu. “Maksudmu, hujan membuatmu ingin muter-muter keliling kota?” “Bukan.” Perempuan itu tersenyum, bagai baru sadar tak bicara ke diri sendiri. Kulitnya bersih, kuning dekat ke [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pahlevy191103.wordpress.com&amp;blog=10803553&amp;post=691&amp;subd=pahlevy191103&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“AKU suka hujan,” kata perempuan di sebelah Bram, bak <em>nyeletuk</em>.</p>
<p>“Ya?” Bram menengok. “Oh, mengapa begitu?” susulnya buru-buru.</p>
<p>“Gemeretak suara hujan di atas genteng selalu membawaku ke mana-mana,” kata perempuan itu.</p>
<p>“Maksudmu, hujan membuatmu ingin <em>muter-muter</em> keliling kota?”</p>
<p>“Bukan.” Perempuan itu tersenyum, bagai baru sadar tak bicara ke diri sendiri. Kulitnya bersih, kuning dekat ke putih. Matanya tampak bagus. “Hujan membawaku ke masa lalu yang indah. Ke masa depan yang juga indah,” dia bilang.</p>
<p>“O.” Bram <em>manggut</em>-<em>manggut</em>, balas tersenyum.</p>
<p>Saat itu mereka di rumah kawan yang merayakan ulang tahun perkawinan dan gerimis tiba-tiba turun di luar. Perempuan itu teman nyonya rumah, Bram kawan tuan rumah. Di situ keduanya berkenalan.</p>
<p>Empat, atau lima hari kemudian Jakarta kembali basah. Kali ini benar-benar karena hujan, tidak lagi sekadar gerimis. Padahal sebelumnya cerah, tak tampak gabak di hulu bak disebut-sebut petuah lama itu. Bram dalam perjalanan pulang dan tiba-tiba dia teringat perempuan itu. “Halo, Ria,” sapanya di HP. “Ini saya, Bram. Apa kabar?”</p>
<p>“Baik. Bang Bram bagaimana, sehat?”</p>
<p>“Baik, sehat. Saya lagi di jalan. Kamu di mana?”</p>
<p>“Di rumah.”</p>
<p>“Lo, sudah pulang kantor?”</p>
<p>“Memang tidak masuk. Lagi malas.”</p>
<p>Bram ikut <em>ketawa</em>. Lalu, “Di sini hujan,” ia bilang. “Di tempatmu bagaimana?”</p>
<p>“Ini sedang deras-derasnya.”</p>
<p>“Oh. Saya tidak mengganggu perjalananmu bersama hujan, <em>kan</em>?”</p>
<p>“Belum berangkat.” Perempuan itu tertawa. “Malah bisa ditunda jika ada yang mampir.”</p>
<p>Bram mampir. Ya, di tengah hujan begitu. Pakaian dan rambutnya basah sebab dia harus berlari dari pinggir jalan ke rumah Ria, tetapi perempuan itu menyambutnya cerah, tidak seperti hari menyambut senja dengan hujan beserta langit yang muram-basah. Mata perempuan itu pun makin bagus saat bercakap. Dada Bram kian berdebar melihatnya. Aku tahu aku menyukai perempuan ini, bisik laki-laki itu di hati. Dan itu karena matanya.<span id="more-691"></span></p>
<p>Sebetulnya, tidak cuma mata perempuan itu yang memesona. Rambutnya juga. Hitam, subur, sedikit berombak dan ia biarkan tergerai melampaui pundak. Begitu pun tubuhnya. Terawat, membuat ia tak seperti 30-an tahun, juga punya anak. Perempuan itu <em>singlet parent</em> sejak suaminya wafat. Tetapi jika diperingkatkan, mata serta alisnya yang tak dicabut apalagi dicukur menempati peringkat teratas ketertarikan Bram. Alis perempuan itu lengkung rapi, asli, meneduhi matanya yang bagus. Rambut perempuan itu di peringkat kedua, Bram menegaskan di hati.</p>
<p>Setelah kunjungan itu dua atau tiga kali mereka pergi bersama; makan di resto di kawasan BSD, juga Bintaro, dan Bram tambah yakin dia tertarik kepada perempuan itu. Lebih dari tertarik, dia rasakan ada yang tumbuh di hati; ya, pada usianya yang tak muda lagi. Sesuatu yang indah, lembut, bikin hari terasa cerah.</p>
<p>“Saya menyayangimu, saya mencintaimu,” akhirnya ia berucap. Lelaki itu merasa kalimat itu tak sepenuhnya mampu melukiskan perasaan indah dan lembut itu, tapi ia tak dapat mencari ungkapan lain yang lebih tepat.</p>
<p>Perempuan itu tak membalasnya dengan kata. Dia biarkan jari digenggam, dan perlahan dia balas menggenggam. Ungkapan cinta memang tak selalu dibalas melalui ucapan, kata Bram dalam hati, meyakinkan diri bahwa perempuan itu pun memiliki perasaan indah serta lembut kepadanya. Lelaki itu tambah yakin dengan pendapatnya ketika hari-hari berlalu dan perempuan itu membalas SMS yang dia kirim.</p>
<p>“Saya pun menyayangi Abang,” tulis Ria. Hari-hari berikut dia tambah dan bunyinya jadi begini: “Saya menyayangi Abang. Abang jangan pernah lupakan saya.” Bram membalasnya bersemangat, “Tidak. Tak akan pernah. Percayalah.”</p>
<p>Juga pernah, usai mereka bercinta di luar kota Bram kemudian duduk di muka jendela, memandang ke luar. Hotel itu di pegunungan, sunyi dari bunyi kendaraan. Dan langit tampak cerah. Perempuan itu menghampiri dari belakang. “Kenapa Abang melamun?” dia bilang. “Menyesal?”</p>
<p>“Kok menyesal? Saya justru sedang di sebaliknya.”</p>
<p>“Ada apa di sebalik sesal?”</p>
<p>“Saya merasa dari hari ke hari rasa sayang saya terus tumbuh dan membesar.”</p>
<p>“Dan, itu masalah?”</p>
<p>“Saya takut. Hantamannya juga amat besar jika hubungan ini berakhir.”</p>
<p>“Siapa yang akan mengakhiri? Abang?”</p>
<p>“Saya jelas tidak.”</p>
<p>“Saya juga tidak,” balas Ria. “Saya menyayangi Abang. Sangat sayang.”</p>
<p>Bram menariknya dan mereka duduk bersisian. Rambutnya dia belai, dia cium keningnya. Bibir mereka bertemu. Ketika mereka toleh pula lewat jendela, eh, gerimis turun di luar. Sungguh tak diduga, tidak pakai aba-aba. Atau, lagi-lagi tak peduli pada ujaran lama “gabak di hulu tanda <em>kan</em> hujan” itu. Bram memeluk lagi, seraya berbisik, “Jangan pergi. Jangan pergi ke mana-mana bersama hujan.”</p>
<p>“Tidak,” kata perempuan itu. “Aku tak akan pergi. Toh ada Abang bersamaku.”</p>
<p>Akhir-akhir percakapan seperti itu tidak sekadar menyuburkan perasaan indah-lembut itu. Bram kadang-kadang jadi kelewat yakin hingga adakalanya dia lontarkan guyon-guyon yang sebenarnya hanya sedap diucapkan tetapi tidak sebagai kenyataan. “Ada dua kemungkinan dapat terjadi pada hubungan ini,” kata laki-laki itu, misalnya. “Pertama, kita tetap seperti ini dan suatu ketika nanti berakhir dengan <em>happy</em>.”<!--more--></p>
<p>Perempuan itu tak menanggapi. Cuma senyum, matanya tampak makin bagus.</p>
<p>“Kedua, kamu jumpa dan jatuh cinta pada lelaki yang&#8230;.”</p>
<p>“Jangan teruskan.”</p>
<p>Tapi Bram melanjutkan, “Umurnya jauh di bawahku, sedikit di atasmu. Kalian bisa disebut sepantar, malah serasi. Lalu, saat kita jumpa pula&#8230;.”</p>
<p>“Jangan dilanjutkan,” perempuan itu kembali menukas.</p>
<p>Bram tetap bicara, “Kamu bilang: Abang, maaf. Hubungan ini tak dapat lanjut. Abang punya keluarga dan saya jumpa lelaki yang&#8230;.”</p>
<p>“Stop,” sela perempuan itu. Ia susul, “Sebetulnya, itu yang Abang inginkan?”</p>
<p>“Tentu tidak,” balas Bram.</p>
<p>“Lalu&#8230;.”</p>
<p>“Ah, itu cuma guyon, kok.”</p>
<p>“Tapi tidak baik. Juga menyakitkan.”</p>
<p>“Oh, maaf. Sudahlah, lupakan.”</p>
<p>***</p>
<p>Kemudian Juli datang, malah hampir berakhir. Musim hujan belum saatnya tiba. Tapi, kau tahu sekarang cuaca tak mudah dipahami. Empat hari hujan turun dari pagi kadang juga hingga petang, dan selama itu Bram bertanya-tanya apa yang tengah menerpa hubungannya dengan perempuan itu. Teleponnya tak pernah diangkat. SMS-nya tak dibalas. Di rumah, saat ia datangi, di tengah hujan, perempuan itu tak ada. Dia datangi ke kantor, juga di tengah hujan, rekannya bilang sedang ke luar. Ke mana Ria, perempuan itu? Pergi bersama hujan ke masa lalu yang indah? Ke masa depan yang juga indah? Sungguh bikin bingung. Menggelisahkan.</p>
<p>Hari kelima, tatkala hujan tidak lagi turun tapi langit tetap muram bagai wajah seusai tangis, tak disangka-sangka perempuan itu angkat telepon Bram. “Oh.” Lelaki itu mengatur napas dan pikiran yang berdesakan. “Kamu ke mana?”</p>
<p>“Tidak ke mana-mana.”</p>
<p>“Saya cari ke rumah, juga kantormu, tidak ada.”</p>
<p>“Saya ada, kok.”</p>
<p>“Telepon-telepon saya juga tidak diangkat.”</p>
<p>“Maaf.”</p>
<p>“Kenapa SMS-SMS saya tidak dibalas? Ada apa sebetulnya?”</p>
<p>“SMS? Mungkin tidak masuk.”</p>
<p>Bram mulai merasa ada yang tengah berubah, seperti hujan mulai mengingkari musim, juga tanda-tanda pada ungkapan lama itu. Setengah mengajuk, lelaki itu lalu bertanya, “Atau, barangkali ada laki-laki lain?”</p>
<p>“Ya,” jawab perempuan itu.</p>
<p>Oh. Jelas sudah. “Tapi, kenapa?”</p>
<p>“Sebab saya menyayangimu. Sebab saya sayang Abang. Hubungan ini tak bisa lanjut. Kita makin hancur jika terlambat mengakhiri.”</p>
<p>Itu kilah. Malah dusta. Sebab, “Apa dia lelaki yang sendiri?” tanya Bram. Dan perempuan itu bilang tidak.</p>
<p>“Jadi, dia pun sudah berkeluarga?”</p>
<p>“Hmm&#8230; ya.”</p>
<p>“Lalu kenapa?”</p>
<p>“Sudah, ya. Nanti saja. Maaf.”</p>
<p>Alangkah aneh, juga sulit dipahami. Persis hujan masa kini yang mengingkari dan tak lagi peduli pada musim. Lelaki itu sempat terpikir dia adalah musim yang kini terasa jadi renta.</p>
<p>Tiga bulan lewat dan selama 120-an hari itu Bram selalu ingat perempuan itu. Ia begitu diikat perasaan indah dan lembut. Soalnya aku memang menyayangi dia, ia bilang di hati. Amat menyayanginya. Dia pernah berpikir mengekspresikan perasaan indah dan lembut itu ke wujudnya yang konkret. Tapi, itulah. Perempuan itu tiba-tiba menghentikan, seperti hujan yang tiba-tiba turun menyabot semua rencana kita di saat siang cerah bermatahari.</p>
<p>Kini tiga bulan lewat, dan tiga bulan sesudah akhir Juli atau awal Agustus itu mestinya musim hujan. Tetapi itu dahulu. Kini hujan tak turun setiap hari. Langit tempo-tempo amat cerah. Dan bila hujan turun ingatan Bram pun kian subur pada perempuan itu. Semua yang lalu jadinya seperti gambar-hidup, bergerak kembali.</p>
<p>“Abang cemburu jika kuceritakan satu peristiwa dahulu bersama suamiku?” kata perempuan itu saat mereka melintas antara Ciawi-Bogor, dan hujan turun tiba-tiba.</p>
<p>“Tidak.” Bram justru iba karena perempuan itu demikian setia, bahkan kepada peristiwa dan orang yang sudah tiada, pada masa lalu. Perasaan indah-lembut di hati lelaki itu menjadi-jadi. Ingin sekali ia membahagiakan perempuan itu. “Ceritalah,” dia bilang.</p>
<p>“Di sekitar sini juga saat itu. Kami pulang dari Puncak, hujan turun mendadak. Saya gembira sekali, Abang. Dia tahu itu dan dia matikan musik. Saya lalu menyimak gemeretak suara hujan pada kaca serta atap mobil. Lantas, saya turunkan kaca jendela, julurkan tangan keluar. Oh, indah sekali, Abang. Saya tertawa-tawa senang. Dia ikut <em>ketawa</em> dan meminta saya hati-hati, jangan sampai tangan saya disambar mobil lain.”</p>
<p>“Kini kamu ingin menjulurkan tangan ke luar jendela?” tanya Bram.</p>
<p>“Saya ingin menyusupkan jemari saya di jemari Abang. Saya ingin menyimak suara hujan dan tak ingin pergi bersamanya. Saya ingin bersama Abang.”</p>
<p>Bram menggenggam jemarinya dengan sayang.</p>
<p>Lalu hujan betul-betul turun hampir tiap hari, seolah-olah kembali patuh pada musim. Empat atau lima hari berturut-turut. Televisi menyebut hujan merata seantero Jakarta. Ingatan Bram pun makin subur dan subur juga pada perempuan itu. Ia seakan menaruh harapan melihat perilaku hujan saat itu kepada musim. Siapa tahu hujan kali ini membawa perempuan itu ke masa lalu yang indah. Dan ia tekan nomor perempuan itu. Tak ada sahutan, sampai nada sambung berakhir. Dia pencet lagi, lagi&#8230;</p>
<p>“HP-mu berbunyi,” lelaki di sebelah perempuan itu berucap di seberang.</p>
<p>“Aku tahu.”</p>
<p>“Kok tak diangkat?”</p>
<p>“Aku sedang ke masa depan bersama hujan.”</p>
<p>Di luar, hujan terus menderu dan perempuan itu senyum lalu bergelung dalam pelukan lelaki itu.***</p>
<p>Cerpen                                                                                     <a href="http://www.sriti.com/story.php?writer=236">Adek Alwi </a> <a href="popUp('writePop.php?key=236')"><img src="http://www.sriti.com/images/profile.gif" border="0" alt="Silakan Simak!" /></a><br />
Dimuat di                                                                                         <a href="http://www.sriti.com/story.php?media=46">Jurnal Nasional </a> <a href="http://www.sriti.com/story_view.php?key=3452" target="_blank"><img src="http://www.sriti.com/images/home.gif" border="0" alt="Silakan Kunjungi Situsnya!" width="8" height="8" /></a> 01/10/2010 Telah Disimak 445 kali</p>
<br />Posted in Cerita-Cerita, Cinta Kasih, Motivasi Diri Tagged: Cerita Motivasi, Cinta Kasih, Motivasi <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pahlevy191103.wordpress.com/691/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pahlevy191103.wordpress.com/691/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pahlevy191103.wordpress.com/691/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pahlevy191103.wordpress.com/691/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pahlevy191103.wordpress.com/691/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pahlevy191103.wordpress.com/691/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pahlevy191103.wordpress.com/691/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pahlevy191103.wordpress.com/691/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pahlevy191103.wordpress.com/691/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pahlevy191103.wordpress.com/691/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pahlevy191103.wordpress.com/691/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pahlevy191103.wordpress.com/691/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pahlevy191103.wordpress.com/691/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pahlevy191103.wordpress.com/691/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pahlevy191103.wordpress.com&amp;blog=10803553&amp;post=691&amp;subd=pahlevy191103&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pahlevy191103.wordpress.com/2010/01/23/perempuan-hujan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2742147182cd8818682b023f2affae35?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">pahlevy191103</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.sriti.com/images/profile.gif" medium="image">
			<media:title type="html">Silakan Simak!</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.sriti.com/images/home.gif" medium="image">
			<media:title type="html">Silakan Kunjungi Situsnya!</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Maafkan Aku,MembiarkanMu Menunggu</title>
		<link>http://pahlevy191103.wordpress.com/2010/01/23/maafkan-akumembiarkanmu-menunggu/</link>
		<comments>http://pahlevy191103.wordpress.com/2010/01/23/maafkan-akumembiarkanmu-menunggu/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 23 Jan 2010 23:15:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pahlevy191103</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita-Cerita]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta Kasih]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi Diri]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pahlevy191103.wordpress.com/?p=689</guid>
		<description><![CDATA[Tanggal 2 February lalu, sekali lagi, aku menginjakkan kakiku di negeri Menara Kembar Petronas (The Twin Towers) Kuala Lumpur, Malaysia. Kira-kira, pukul 9:30 pagi,   aku dan seorang ibu memasuki bandara KLIA (Kuala Lumpur International AirtPort). Berhubung karena orang yang ditugaskan menjemput kami belum datang, maka kami masuk di sebuah restoran untuk sarapan. Maklum, kami tidak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pahlevy191103.wordpress.com&amp;blog=10803553&amp;post=689&amp;subd=pahlevy191103&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tanggal 2 February lalu, sekali lagi, aku menginjakkan kakiku di negeri Menara Kembar Petronas (The Twin Towers) Kuala Lumpur, Malaysia. Kira-kira, pukul 9:30 pagi,   aku dan seorang ibu memasuki bandara KLIA (Kuala Lumpur International AirtPort).</p>
<p>Berhubung karena orang yang ditugaskan menjemput kami belum datang, maka kami masuk di sebuah restoran untuk sarapan. Maklum, kami tidak sempat sarapan sebelum berangkat. Tetapi, malangnya, sudah hampir 1 jam kami menghabiskan makanan, penjemput yang ditunggu-tunggu belum juga datang. Akhirnya, kami keluar dari restoran itu. Dan, tidak lama kemudian, orang yang ditugaskan menjemput kami menelpon kalau dia berhalangan datang karena adanya urusan penting. Dan, katanya dia sudah menyuruh orang lain untuk menjemput kami.</p>
<p>Sekali lagi, kami menunggu. Saya dan Ibu Ivy duduk di sebuah besi panjang (yang memang diperuntukkan sebagai tempat duduk) sambil memandang hilir mudik orang-orang yang datang dan pergi, silih berganti.</p>
<p>Tiba-tiba, seorang ibu yang memakai baju kurung (Istilah orang Malaysia untuk pakaian yang sewarna berpasangan/baju lengan panjang dengan rok panjang) menghampiri saya dan mengatakan sesuatu yang tidak jelas terdengar di telingaku. Entah apa yang ditanyakan? Seperti biasa, jika kambuh penyakit egoisku (hehehe… <img src="http://alinasheart.rezaervani.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif" alt=":P" /> ), saya menjawab, “Tidak!” Ya, kata itu meluncur begitu saja dari mulutku. Begitulah kalau saya ingin mempersingkat dialog <img src="http://alinasheart.rezaervani.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif" alt=":D" /></p>
<p>Mungkin, karena ibu itu merasa kalau apa yang dia inginkan tidak mungkin beliau temukan pada diriku, maka dia memilih melangkah agak jauh dari tempatku, duduk. Kembali aku larut dalam pemandangan tadi (hilir mudik mobil dan orang lalu lalang yang entah kapan mencapai tahap keletihannya). Aku dan Ibu Ivy sama-sama diam. Seakan-akan orang akan kehabisan bahan bicara jika sudah jemu menunggu. Padahal, sejak di pesawat tadi, tidak henti-hentinya kami bersembang. Sedangkan, ibu itu berdiri tanpa melepaskan pegangan tangannya dari koper rodanya yang berwarna biru kehitam-hitaman.</p>
<p>Orangnya pendek dan kulitnya agak hitam. Rambutnya keriting dan pendek. Matanya agak cekung. Orangnya kurus. Sandal tipis berwarna hitam mengalasi kaki-kakinya yang mulai menampakkan ketuaan. Beliau memakai baju kurung berawarna hijau muda menyala. Bagiku, beliau mampu memadankan busana-busana yang dipakainya dengan potongan tubuhnya.</p>
<p>Tidak lama kemudian, datang sepasang anak muda berdiri di sampingnya. Beliau tetap menatap jalanan. Dalam hati, aku begitu yakin, kalau nasibku sama persis dengan nasibnya, yaitu menunggu. Menunggu penjemput yang katanya akan datang menjemput kita, tetapi malah dia yang di jemput. <img src="http://alinasheart.rezaervani.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif" alt=":D" /></p>
<p>“Lin, saya beli newspaper dulu ya! Mau ikut?”<br />
Aku hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum masam menanggapi pertanyaan Ibu Ivy. Ya, aku akui, aku sudah amat letih menunggu. Namun, keletihanku itu beralih ketika samar-samar terdengar percakapan dari ibu tadi dengan sepasang anak muda yang berdiri di sampingnya.<br />
“…Pukul berapa dia janji nak datang menjemput Mak Cik?” tanya Sang Pemuda<br />
“… asal saya sudah sampailah!” jawabnya.<br />
”Mak Cik punya nombor teleponnya tak?” tanya Sang Pemuda lagi.<br />
“Ada, tetapi bukan dia yang punya. Punya jirannya…” jawab beliau.<br />
“O…!” hanya huruf itu yang keluar dari mulut Sang Pemuda tadi.</p>
<p>Namun, nampaknya, Sang Ibu masih ingin bercerita, tetapi pemuda itu sudah mulai mengalihkan perhatian ke jalanan. Lalu, Ibu itu mencoba berkomunikasi dengan Sang Gadis. Mereka pun ngobrol. Entah apa yang mereka obrolkan? Aku sudah tidak mendengarkannya. Apalagi, saat itu, Ibu Ivy memberiku surat kabar. Media yang banyak mengelu-elukan <em>PM Malaysia, Datuk Sri Abdullah Ahmad Badawi.</em> Di halaman berikutnya, <em>“Seorang warga Indon ditangkap polis karena memilki kartu pengenalan palsu”.</em> Ada juga<em> berita pemerkosaan</em>. Dan, tidak lupa pula, <em>berita seorang anak kecil (kalau tidak salah berumur 9 tahun) dinyatakan hilang alias diculik</em>. Masih banyak <em>berita</em> <em>dalam negeri.</em> Dan, di halaman terakhir, <em>berita</em> <em>olahraga</em>.</p>
<p>Kembali saya memalingkan wajah memandang tempat Sang Ibu tadi berdiri. Beliau masih di sana. Sedangkan, sepasang anak muda tadi sudah melangkah pergi. Timbul rasa kasihan dan rasa penasaran dalam dadaku. Aku berdiri, lalu menghampirinya. Kuberanikan diri bertanya, “Ibu sedang menunggu anaknya ya?”<br />
“Iya!” jawabnya sambil menatapku<br />
“Pukul berapa katanya dia hendak datang menjemput ibu?”<br />
“Dia cakap, saat aku sampai, dia pun datanglah!” jawabnya dengan logat Melayu Malatsianya yang kental. Huruf  akhiran ‘a’ berubah bunyi jadi ‘e’.<br />
“Ibu sudah menelponnya?” tanyaku<br />
“Tak!” jawabnya sambil menggelengkan kepala.<br />
“Ibu punya nomor telepon anak ibu?” tanyaku lagi<br />
“Ada. Tapi…, ” beliau tidak melanjutkan kata-katanya.</p>
<p>Aneh. Dia mempunyai nomor telepon, kenapa tidak dihubungi saja? Menanyakan persoalannya. Sudah berjam-jam, beliau berdiri menunggu. Tiba-tiba, akalku menebak sesuatu. Sehingga membuat bibriku bergerak lagi bertanya, “Ibu punya HP?” tanyaku.<span id="more-689"></span><br />
“Ha?” beliau menganga. Ya, ampun! Aku lupa. Kalau di Malaysia itu, orang-orang mengeja huruf-huruf ala bahasa Inggeris. Aku tertawa dalam hati. <img src="http://alinasheart.rezaervani.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif" alt=":D" /><br />
“Ibu punya telepon? Maksud saya, handphone?” ulangku kembali.<br />
“Tidak ada!” jawabnya yang sekali lagi disertai gelengan kepala.<br />
“Saya punya, Bu! Biar saya telepon anak Ibu!” kataku sambil merogoh tas putihku. Secepat kilat pula, beliau merogoh tas kepit biru mudanya. Tidak lama kemudian, nokiaku sudah siap di remote dan tangan beliau sudah menyodorkan secarik kertas putih. Lalu, menunjukkan nomor telepon mana yang harus aku hubungi. Karena di kertas itu ada beberapa nomor telepon.</p>
<p>Singkat cerita, terdengar sambunga, tut… tut…tut…<br />
“Hallo!” terdengar suara perempuan di sana. Segera saya menyerahkan HP itu ke tangan beliau. Mereka pun ngobrol sebentar. Entah bahasa apa yang mereka pakai? Yang jelasnya, bukan bahasa Melayu ala Malaysia. Tidak lama kemudian, beliau menyerahkan HP itu ke tangannku.<br />
“Sudah dekat ya, Bu?”<br />
“Ha?” kembali dia memperlihatkan mimik tanda tidak mengertinya pada ucapanku.<br />
“Anak ibu sudah mau datang?”<br />
“Tak! Dia ada kursus dulu…”<br />
“Jadi…?”<br />
“Nanti dia beri kau nombor telepon. Dan, dail nombor tu!” katanya. Aku hanya mengangguk. Dan, tidak lama kemudian, nada dering sms HP-ku mengalun. Sebuah sms masuk ke HP-ku itu seperti ini:</p>
<p><em><strong>013-807####(</strong></em>saya sembunyikan)<em><strong> galiong namanya.<br />
trimakasih ya… bg tau emak saya suruh dail no ni</strong></em></p>
<p>Aku<strong><em> </em></strong>pun<em><strong> </strong></em>menghubungi nomor telepon seperti suruhan dari sms itu. Sekali lagi terdengar bunyi, tut…tut…tut…<br />
“Hallo!” … suara laki-laki. Lagi-lagi, tanpa berkata apa-apa, saya langsung menyerahkan HP ke tangannya. Mereka pun berbicara dengan bahasa yang sama. Tiba-tiba mobil putih datang yang sopirnya memandang kami sambil memperlihatkan gigi.<br />
“Sudah sampai!” kata ibu Ivy dengan nada gembira. Aku pun ikut tersenyum. Saya bergegas berdiri mengangkat tas cokelat tempat pakaianku. Begitu pula dengan Ibu Ivy, mengangkat kopernya. Melihat gelagat itu, Sang Ibu berbicara terburu-buru. Setelah menyimpan barang di bagasi mobil, aku menghampiri sang ibu tadi. Sedangkan, Ibu Ivy memandangku dengan heran dari belakang. Ibu tersebut menyodorkan HP itu ke arahku tanpa ucapan apa-apa.<br />
“Anak ibu sudah mau datang?” tanyaku</p>
<p>Beliau hanya memperlihatkan giginya. Entah dia tidak mengerti bahasaku atau memang, anaknya tidak akan datang? Entahlah! Walaupun heran bercampur penasaran aku tetap minta pamit, “Saya duluan, Bu!”<br />
“Tunggu!” katanya tiba-tiba. Beliau merogoh tasnya. Dan, meraih dompetnya. Nampak dari tangannya, beliau menarik uang kertas dari dompetnya tersebut.<br />
“Ha?” kini, giliran saya yang memakai gayanya. hehehe… <img src="http://alinasheart.rezaervani.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif" alt=":D" /> “Saya ikhlas kok membantu Ibu! Saya bukannya mau dibayar!” kataku dengan senyuman manis. hehehe… <img src="http://alinasheart.rezaervani.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif" alt=":)" /></p>
<p>Beliau pun menatapku tanpa berkata apa-apa.<br />
“Saya duluan ya, Bu!” kataku sekali lagi.<br />
“Awak orang apa?” tanyanya tiba-tiba.<br />
“O… saya orang Indonesia, Bu!” jawabku tanpa kehilangan senyuman.<br />
“Suamiku juga orang Indonesia. Tetapi, sudah meninggal…” katanya dengan senyuman yang dipaksakan.<br />
“O…!” kataku sambil menganggukkan kepala. “Saya jalan, Bu!” ucapku ketika menyadari kalau Ibu Ivy ternyata masih memandangku dengan heran dari belakang dengan mulut menganga di sana, di samping mobil itu.</p>
<p>Aku melambaikan tangan padanya saat aku sudah berada di dalam mobil.<br />
“Kenapa?” tanya Ibu IVy<br />
“O… saya menolong dia dengan meminjamkan HP padanya. Kasihan! Dia tidak punya telepon. Sedangkan, dia sudah lama menunggu anaknya. Tetapi, tidak datang-datang juga!” jelasku. Ya, waktu itu sudah menunjukkan menghampiri pukul 2 siang.<br />
“Hati-hati! Sekarang, banyak orang jahat, Lin! Pura-pura kasihan, tetapi dia akan menghipnotismu. Mengambil semua barang-barangmu… bla bla bla… !” kata Ibu Ivy.</p>
<p>Hehehe…. Aku hanya tertawa lepas. <img src="http://alinasheart.rezaervani.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif" alt=":D" /><br />
Kemudia, sejenak, aku berbalik memandang ke belakang. Beliau masih di sana. Namun, bukan berdiri, tetapi duduk. Hampir saja, air mataku jatuh. Saya merasa seakan-akan yang di sana itu adalah ibuku yang sedang menungguku. Lalu, aku mengetik sms dan mengirim sms itu ke nomor yang terakhir dihubungi tadi:</p>
<p><strong><em>Silahkan jemput ibu Anda!<br />
Beliau sudah lama menunggu…<br />
Mohon maaf dan terimakasih.</em></strong></p>
<p>Sebenarnya, aku ingin menelpon seseorang di antara mereka. Tetapi, aku takut orang itu akan marah karena menganggap saya terlalu ikut campur urusan orang lain. Maka, aku memilih diam. Walau hatiku masih dibayang-bayangi oleh wajah ibu tadi.</p>
<p><em>“Dan, kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada ibu bapaknya, ibunya telah mengandung dia dengan susah payah dan melahirkan dia dengan susah payah pula; ,mengandung dan menyusuinya selama 30 bulan” (al-Ahqaf:15) </em></p>
<p><em> “Beribadahlah kepada Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun! Dan, berbuat baiklah terhadap ibu bapak!” (An-Nisak:36)</em></p>
<p>Dan, dibeberapa surah lainnya yang setiap selesai Allah menyuruh hamba-Nya hanya menyembah kepada-Nya, menghargai dan berbuat baik kepada ibu bapak akan sentiasa diikutkan. Anda boleh menemukannya di QS. al-Isra’ ayat 23-24 atau Luqman ayat 14-15.</p>
<p>Dalam hadist pula…<br />
<em>Seorang laki-laki datang kepada Nabi Muhammad saw dan bertanya, “Siapakah manusia yang lebih berhak saya layani dengan baik? Nabi menjawab: Ibumu! Dia bertanya lagi: Kemudian siapa? Nabi menjawab: Ibumu! Dia bertanya lagi: Kemudia siapa lagi? Nabi menjawab: Ibumu! Kemdian, dia bertanya lagi: Kemudian siapa lagi? Nabi menjawab: Ayahmu!” (HR. Bukhari dan Muslim)</em></p>
<p><em>“Ada 3 orang yang tidak akan masuk surga: 1)Orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya; 2)lelaki yang tidak ada perasaan cemburu terhadap keluarganya; 3) Perempuan yang menyerupai lelaki.” (Riwayat Nasa’i, Bazzar dan Hakim)</em></p>
<p><em> “Ada seorang lelaki datang kepada Nabi, kemudian berkata: saya datang hendak berbaiat kepadamu untuk berhijrah, tetapi saya tinggalkan kedua orang tuaku dengan menangis. Maka jawab Nabi: Pulanglah dan perbuat kedua orang tuamu itu dengan ketawa, sebagaimana engkau telah membuat mereka menangis.” (HR Bukhari)</em></p>
<p><em> “Ada seorang lelaki datang kepada Nabi minta izin pergi berperang, kemudian Nabi bertanya: apakah kedua orang tuamu masih hidup? Dijawab: Masih! Maka sabda Nabi: Berjuanglah untuk kedua orang tuamu itu!” (HR. Riwayat Bukhari dan Muslim)</em></p>
<p>Subahanallah! Betapa agung dan mulianya kedudukan seorang ibu dalam agama Islam. Di dalam Al-Qur’an, kedua orang tua berada di posisi kedua sesudah ‘Hanya menyembah kepada Allah”. Begitu pula di dalam hadist Rasulullah. Sampai-sampai berbuat baik kepada kedua orang tua (terutama ibu) lebih besar pahalanya dibandingkan dengan pergi berjihad fisabilillah! Subahanallah!</p>
<p>Tentu sebagai umat Islam, sudah pasti tidak asing lagi dengan kisah Alqomah yang tidak bisa mengucapkan 2 kalimat sahadat ketika sedang sekarat karena lebih mementingkan istrinya daripada ibunya. Ada pula riwayat Zuraij, seorang pemuda Islam yang taat beribadah. Yang suatu hari dipanggil oleh ibunya ketika beliau sedang sholat. Sehingga lahir hukum kalau ketika sedang sholat sunnah panggilan ibu wajib dijawab. Dengan kata lain, membatalkan sholat sunnah tersebut. Kecuali, kalau sedang sholat fardhu.</p>
<p>Saya pernah membuat ibuku menangis ketika sudah sangat cemas menungguku pulang dari sekolah (waktu itu, saya masih di bangku SMA kelas tiga). Saya pulang agak malam karena hari pertama saya mengikuti Bimbel dari forum Gadjah Mada Makassar. Padahal, saya sudah memberitahu beliau ketika pagi sebelum berangkat ke sekolah.</p>
<p>Namun begitu, beliau tetap cemas. Saat saya melangkah masuk di lorong ke rumahku yang agak remang-remang (waktu itu sudah menghampiri pukul 7 malam), tiba-tiba dari arah depan, ada 2 sosok tubuh yang sedang berjalan ke arahku. Hati saya berdebar-debar. Ternyata itu adalah ibuku beserta kakakku.</p>
<p>“Kenapa telat pulang, Nur?” tanyanya dengan nada agak tinggi.<br />
“Bukankah tadi pagi Nur sudah mengatakannya pada Ibu?” kataku. Tiba-tiba ibuku duduk. Terdengar suara tangisan. Ya, ibuku betul-betul menangis. Nasib, rumah orang tidak berdempetan amat. Aku serba salah. Aku pun duduk di depannya.<br />
“Ibu sudah lama menunggumu!” sela kakakku.<br />
“Ibu pikir, kamu sudah dilarikan oleh sopir pete-pete!” kata ibuku di sela-sela tangisnya.</p>
<p>Ingin rasanya, saya tertawa mendengar alasan beliau. Tetapi, tidak jadi. Malah, yang ada cuma air mata juga. Aku membimbingnya pulang ke rumah karena saat itu juga, ada seorang tetangga melalui jalan itu. Sesampainya, di rumah aku meminta maaf beberapa kali sambil berbaring di sampingnya. Ya, aku suka sekali tidur di samping ibuku sambil memeluknya. Walaupun sudah sebesar ini. Ibuku kadang berkata, “Tidakkah kau malu seperti anak kecil?” Biasanya, aku hanya menambah eratkan pelukanku. Ibuku adalah surgaku! Hehehe… <img src="http://alinasheart.rezaervani.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif" alt=":)" /></p>
<p>Mungkin, Anda-anda akan merasa lucu dengan jawaban ibuku ketika menangis itu? ya, ibuku masih dibayang-bayangi kejadian yang telah menimpah 3 kakak perempuanku beberapa tahun yang lalu (sudah 10 tahun lebih). Waktu itu, 3 kakak saya (Hasnawati, Musnira, dan Arifah) pulang dari rumah kakak tertuaku yang sedang sakit. Menjelang subuh, 3 kakakku itu pamit pulang karena sudah harus masuk sekolah. Dan tetangga di situ mencarikan mobil pete-pete untuk ke-3 kakakku tersebut. Malangnya, sudah sampai di tempat tujuan, si sopir tak menghentikan mobilnya. Malah, membuatnya semakin laju. Sehingga ke-3 kakakku itu (kelas 6, kelas 4 dan kelas 3) memutuskan melompat dari mobil. Ya, mereka melompat di tengah kelajuan mobil tersebut. Orang-orang mengira kalau yang jatuh adalah baju. Akhirnya, ke dua kakakku berpulang ke pangkuan-Nya. Yang hidup cuma Kak Arifah yang kini sudah mempersembahkan 2 kemenakan kecil untukku. Itulah yang selalu membayangi ibuku. Saat-saat yang menyakitkan ketika beliau keluar daerah.</p>
<p>Jadi, marilah kita sama-sama memuliakan ibu kita. Menempatkan pada posisinya yang sesuai dengan Al-Qur’an dan Hadist. Mari, sama-sama belajar menjadi anak yang berbakti!</p>
<p>copied:http://alinasheart.rezaervani.com</p>
<br />Posted in Cerita-Cerita, Cinta Kasih, Motivasi Diri Tagged: Cerita Motivasi, Cinta Kasih, Motivasi <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pahlevy191103.wordpress.com/689/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pahlevy191103.wordpress.com/689/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pahlevy191103.wordpress.com/689/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pahlevy191103.wordpress.com/689/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pahlevy191103.wordpress.com/689/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pahlevy191103.wordpress.com/689/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pahlevy191103.wordpress.com/689/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pahlevy191103.wordpress.com/689/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pahlevy191103.wordpress.com/689/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pahlevy191103.wordpress.com/689/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pahlevy191103.wordpress.com/689/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pahlevy191103.wordpress.com/689/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pahlevy191103.wordpress.com/689/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pahlevy191103.wordpress.com/689/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pahlevy191103.wordpress.com&amp;blog=10803553&amp;post=689&amp;subd=pahlevy191103&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pahlevy191103.wordpress.com/2010/01/23/maafkan-akumembiarkanmu-menunggu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2742147182cd8818682b023f2affae35?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">pahlevy191103</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://alinasheart.rezaervani.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif" medium="image">
			<media:title type="html">:P</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://alinasheart.rezaervani.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif" medium="image">
			<media:title type="html">:D</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://alinasheart.rezaervani.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif" medium="image">
			<media:title type="html">:D</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://alinasheart.rezaervani.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif" medium="image">
			<media:title type="html">:D</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://alinasheart.rezaervani.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif" medium="image">
			<media:title type="html">:D</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://alinasheart.rezaervani.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif" medium="image">
			<media:title type="html">:)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://alinasheart.rezaervani.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif" medium="image">
			<media:title type="html">:D</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://alinasheart.rezaervani.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif" medium="image">
			<media:title type="html">:)</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Seorang Ibu Menunggu</title>
		<link>http://pahlevy191103.wordpress.com/2010/01/23/seorang-ibu-menunggu/</link>
		<comments>http://pahlevy191103.wordpress.com/2010/01/23/seorang-ibu-menunggu/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 23 Jan 2010 23:12:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pahlevy191103</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita-Cerita]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta Kasih]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi Diri]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pahlevy191103.wordpress.com/?p=687</guid>
		<description><![CDATA[Sehembus angin menghambur-hamburkan debu, dedaunan layu dan ceceran kertas di halaman rumahnya ketika suatu sore ia menemani suaminya bercengkerama di beranda. Terdengar bunyi gemeresak yang ribut. Mendengar bunyi itu, ingatannya terseret kembali ke detik-detik menegangkan bertahun-tahun lalu, ketika ia berdiri di pintu dengan cemas sementara azan maghrib menjengkali setiap penjuru udara. Namun, seperti biasa, suaminya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pahlevy191103.wordpress.com&amp;blog=10803553&amp;post=687&amp;subd=pahlevy191103&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sehembus angin menghambur-hamburkan debu, dedaunan layu dan ceceran kertas di halaman rumahnya ketika suatu sore ia menemani suaminya bercengkerama di beranda. Terdengar bunyi gemeresak yang ribut. Mendengar bunyi itu, ingatannya terseret kembali ke detik-detik menegangkan bertahun-tahun lalu, ketika ia berdiri di pintu dengan cemas sementara azan maghrib menjengkali setiap penjuru udara. Namun, seperti biasa, suaminya selalu saja membuyarkan saat-saat menggetarkan itu.<br />
Sudahlah. Jangan lagi kau kenang-kenang anak bengal itu. Nanti kau sakit,? kata suaminya dengan ketus.</p>
<p>?Tapi dia anak kita, Yah,? jawabnya lirih.</p>
<p>Suaminya mendengus. ?Apa faedahnya menunggu anak durhaka seperti itu? Berapa tahun sudah dia tak pulang, tak berkirim sekadar kabar? Toh kalau dia kembali, kau dan aku juga sudah menjadi terlalu tua dan semakin dekat dengan kuburan. Dia tak akan membuat kita kembali menjadi muda. Huh, anak durhaka seperti itu. Kenapa tak kau kutuk saja dia jadi batu seperti Si Malin??</p>
<p>Ia menunduk dan diam. Selalu begitu. Setiap kali ia dan suaminya bersilang pendapat, ia selalu mengalah. Ia tak pernah berani membayangkan sebuah pertengkaran antara ia dan suaminya, meski ia marah sekali dengan keketusan suaminya barusan dan rasanya ia ingin membentak laki-laki itu: ?Biar begitu, dia tetap anakku! Anakku!?</p>
<p>Rasanya ingin ia menyangkal: kau laki-laki, tak tahu betapa aku senantiasa kembali menjadi muda setiap kali terkenang anakku tersayang mengompol, atau menangis malam-malam lantaran lapar, atau ketika ia memainkan puting susuku sambil tertawa-tawa.</p>
<p>Dan seorang ibu tak akan pernah mengutuk anaknya menjadi batu, bahkan bila anak itu durhaka. Bagi seorang ibu, anak tetap anak. Titik.</p>
<p>Namun, ia tetap membungkam. Di dalam hatinya, ia membui kemarahan rapat-rapat seperti penjahat hingga setiap kali suaminya pulang, ia selalu menjadi istri yang menyenangkan dan berbakti. Ia telah kehilangan anaknya. Ia tak mau kehilangan lagi.</p>
<p>Seluruh hidupnya telah ia pasrahkan kepada dua orang laki-laki itu: suami dan anak laki-lakinya. Kalau suaminya marah, bisa-bisa suaminya meninggalkan rumah dan mencari rumah lain. Ia bukannya tak tahu bahwa selama ini suaminya kadang-kadang menginap di sebuah rumah yang lain. Namun, ia tak pernah memasalahkan hal itu.<br />
Yang penting baginya adalah bahwa suaminya itu selalu menjadi suami yang baik di rumah.</p>
<p>Apakah anak itu, seperti kata suaminya, memang telah menjadi durhaka dan tak akan pernah kembali? Jika ya, maka anak itu tak pernah tahu bahwa makna kata ibu dalam segala bahasa adalah sabar dan ketegaran menunggu. Dan kasih Ibu, sebenarnya, tak hanya seluas samudera. Berapakah luas samudera? Orang bisa mengukurnya dengan meter atau mil, tetapi perkakas apapun tak akan sanggup menera berapa Kasih Ibu.</p>
<p>Suatu pagi, ketika membersihkan gudang belakang, ia menemukan sebuah layang-layang rusak. Kertas layang-layang itu compang-camping dan warna gambarnya telah pudar. Benda itu bersandar lesu di dinding, terhimpit kaki sebuah meja tua.</p>
<p>Ia tercenung sejenak, lalu meletakkan sapunya dan menarik layang-layang itu dengan hati-hati. Serbuk-serbuk kuning luruh dari layang-layang itu, menimpa kakinya, dan sebagian hinggap di bajunya. Ketika ia menepuk-nepuk bajunya, serbuk-serbuk itu berhamburan di udara dan membikin ia bersin-bersin.<span id="more-687"></span></p>
<p>Jari-jarinya yang keriput dan gemetaran menyusuri rangka bambu layang-layang sementara benaknya tertatih-tatih merakit ulang ingatan. Lalu, tanpa ia sadari, ia telah menghitung dalam hati dan bergumam, ?Dua puluh tahun. Sudah lama sekali.?</p>
<p>Ia membawa layang-layang rusak itu ke ruang depan. Cahaya pagi menghambur masuk lewat pintu yang terbuka lebar. Tetapi, dalam pandangannya, udara tiba-tiba ditangkup remang. Ia juga mendengar azan maghrib. Layang-layang rusak di tangannya telah hilang dan berganti sehelai kain sulam, sementara ia bersandar di langkan pintu. Kepalanya tertunduk dan jari-jarinya yang kokoh memainkan jarum dan benang dengan terampil. Sesekali ia mengangkat wajah dan melempar tatapannya melintasi halaman, meloncati pagar bambu, dan berhenti di kerimbunan kebun singkong di seberang jalan.</p>
<p>Di sela-sela suara azan, sayup-sayup ia mendengar suara kemersak kertas. Ia tersenyum dan menunduk, berpura-pura meneruskan sulamannya. Dalam hati, ia menghitung sampai sepuluh. Pada hitungan yang kesepuluh, tepat seperti dugaannya, sepasang lengan mungil memeluk kakinya. Ia menyisihkan kain sulaman dan melihat, di bawah sana, wajah mungil-kotor seorang bocah lelaki tengah memandangnya dengan mulut sedikit terbuka. Ia tersenyum, membungkuk dan mengusap rambut kusut dan berdebu bocah itu.</p>
<p>?Ayo masuk, Buyung,? bisiknya dengan lembut seraya meraih lengan bocah itu.</p>
<p>Sejenak, bocah itu tampak ragu-ragu, tetapi kemudian ia menurut. Mereka berjalan melintasi ruang depan, melewati seorang laki-laki kekar berkaos singlet yang tengah duduk membaca koran. Sesaat, laki-laki muda itu melirik kepada si bocah, lalu meneruskan bacaannya.<br />
.<br />
Ia meletakkan kain sulamannya di sebuah kursi dan membimbing bocah itu ke kamar mandi. Dengan cekatan, ia tanggalkan pakaian kumal bocah itu dan memandikan, menyabuni dan mengeramasinya hingga bocah itu menggigil dan tertawa-tawa. Setelah mengeringkan badan bocah itu, ia membawanya ke kamar dan mendandaninya.<br />
Kini bocah itu nampak tampan dan rapi dengan kemeja putih, celana pendek dan sarung berwarna biru gelap. Kemudian ia memberikan sebuah Qur?an kepada bocah itu dan membimbingnya ke ruang depan. Ia menunggu di pintu sementara si bocah menghampiri laki-laki kekar itu. Si bocah mengambil tangan kanan laki-laki kekar itu dan menciumnya dengan takzim.</p>
<p>?Pak, saya berangkat ke masjid dulu,? kata bocah itu.</p>
<p>Tiba-tiba ia tersentak. Sebuah sepeda motor dengan suara meraung-raung melintas di jalan di depan pagar. Ia menggelengkan kepala dan berusaha merangkai benda-benda nyata yang ada di sekelilingnya.</p>
<p>Namun, detik-detik menggetarkan itu telah bermukim dalam ingatannya&#8230;.</p>
<p>Sering kali ia terjaga dengan tiba-tiba pada tengah malam karena bermimpi tentang anaknya. Terdengar dengkuran suaminya meningkahi bunyi serangga di luar. Pada saat-saat seperti itu, ia merasakan betapa jauh ia dari anaknya. Ya. Pada saat-saat seperti itu, ia mengerti mengapa jarak bisa menjadi lebih tajam dari pisau. Dan ia hanya bisa menatap langit-langit yang remang seraya meratap: O Buyung, pulanglah, padamkan rindu dendam bundamu ini. Janganlah kita bertemu hanya dalam mimpi.</p>
<p>Betapa ingin ia melihat anak itu. Sekadar melihat wajahnya, atau menyentuh lengannya yang dulu ia bimbing dengan lembut, lengan mungil yang berdebu sehabis bermain layang-layang sepanjang siang di pematang. Ia selalu teringat saat-saat ia mendendangkan nina bobo sementara bocah itu terkantuk-kantuk dalam buaiannya, atau ketika ia membisikkan kata-kata manis untuk menenangkan bocah itu ketika si bocah bermimpi buruk. Ah, betapa anak itu lemah, membutuhkan dahan tempat bergantung dan di waktu panas tempat berlindung.</p>
<p>Setiap kali teringat betapa lemah bocah itu, ia mengeluh: ?Pulanglah, Buyung, engkau tak kan kuat hidup di rantau.?</p>
<p>Namun, ia tahu bahwa anaknya tidak selemah itu. Waktu telah membuat anaknya menjadi pemuda perkasa. Ya. Betapa ia selalu mencamkan prahara itu, ketika seluruh negerinya tercabik-cabik saat anak-anak pertiwi lupa bahwa mereka punya Ibu yang sama. Perang saudara hampir pecah di mana-mana. Semua yang berbau negara rumpang dan poranda?ah, pada saat-saat seperti itu, betapa negara sangat mirip ibu tiri yang tak becus mengurus anak suami dari istri terdahulu. Dan bagi saudara-saudara yang lelah menderita itu, suaminya?seorang pegawai negeri berpangkat tinggi, kepala sebuah sekolah negeri?adalah perkakas negara. Rumahnya diruntuhkan orang banyak, dan ia dan keluarganya tiba-tiba miskin papa.</p>
<p>Saat itu anaknya telah lulus SMA, telah tumbuh menjadi seorang pemuda angkuh. Masih terpacak jelas dalam ingatannya ketika keluarga besarnya berhamburan mendatangi rumahnya membawa barang-barang berharga.</p>
<p>?Untuk kau pakai membangun kembali kebanggaan keluargamu yang punah,? kata mereka.</p>
<p>?Kami tak butuh belas kasihan!? sembur anaknya saraya mengembalikan barang-barang sumbangan itu.</p>
<p>Betapa ia selalu teringat ketika mengantarkan anak itu di stasiun kereta. Seorang pemuda, hanya lulusan SMA, hendak menantang dunia. Ia dapat melihat mata anaknya tajam menatap gerbong kereta kelas ekonomi yang penuh sesak. Sekilas, ia melihat anak itu tersenyum. Sebelum naik gerbong sesak itu, anak itu memeluknya erat-erat?ah, betapa ia ingin saat itu abadi. Ketika kereta mulai berangkat, hanya sekali anak itu menoleh kepadanya. Sekali saja, dan sekilas, hanya sekilas, ia melihat dua butir air mengintip di mata anak itu, tetapi anak itu cepat-cepat mengusapnya.</p>
<p>Betapa saat itu hatinya girang bukan kepalang. Ya. Ia tak mau anaknya menjadi pemuda cengeng. Rasa-rasanya ia akan sangat berat untuk memaafkan anak itu seandainya saat itu anaknya menitikkan air mata, biar cuma setetes.</p>
<p>Apakah suatu saat nanti bocah angkuh itu akan datang, mencium kakinya, dan berkata untuk memadamkan hati gundahnya, ?Ibu, Ibuku sayang, jangan menangis, Ibu. Aku telah pulang, Ibu??<br />
Seorang pemuda angkuh seperti itu&#8230;.</p>
<p>Kini, bertahun-tahun setelah suaminya meninggal, ia merasa bahwa yang menjaganya tetap hidup adalah harapan. Ya. Harapan bahwa suatu saat nanti, sebelum ia pulang ke Bumi, tempat segalanya menjadi Lupa, anak itu akan kembali kepadanya. Ia sadar bahwa harapan itu seperti gelombang, selalu turun-naik. Namun, ia bertekad untuk tetap menunggu, sekuat tulang sehabis tenaga, hingga waktu terus berlalu, sampai ke anak cucu.</p>
<p>Apakah suatu saat nanti ia akan kembali, bersama dengan cucu-cucuku, tanyanya dalam hati. Dan ia menangis sesenggukan. ***</p>
<p>Cerpen                                                                                     <a href="http://www.sriti.com/story.php?writer=840">An. Ismanto </a> <a href="popUp('writePop.php?key=840')"><img src="http://www.sriti.com/images/profile.gif" border="0" alt="Silakan Simak!" /></a><br />
Dimuat di                                                                                         <a href="http://www.sriti.com/story.php?media=10">Sinar Harapan </a> <a href="http://www.sinarharapan.co.id/" target="_blank"><img src="http://www.sriti.com/images/home.gif" border="0" alt="Silakan Kunjungi Situsnya!" width="8" height="8" /></a> 09/15/2007 Telah Disimak 1194 kali</p>
<br />Posted in Cerita-Cerita, Cinta Kasih, Motivasi Diri Tagged: Cerita Motivasi, Cinta Kasih, Motivasi <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pahlevy191103.wordpress.com/687/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pahlevy191103.wordpress.com/687/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pahlevy191103.wordpress.com/687/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pahlevy191103.wordpress.com/687/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pahlevy191103.wordpress.com/687/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pahlevy191103.wordpress.com/687/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pahlevy191103.wordpress.com/687/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pahlevy191103.wordpress.com/687/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pahlevy191103.wordpress.com/687/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pahlevy191103.wordpress.com/687/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pahlevy191103.wordpress.com/687/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pahlevy191103.wordpress.com/687/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pahlevy191103.wordpress.com/687/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pahlevy191103.wordpress.com/687/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pahlevy191103.wordpress.com&amp;blog=10803553&amp;post=687&amp;subd=pahlevy191103&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pahlevy191103.wordpress.com/2010/01/23/seorang-ibu-menunggu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2742147182cd8818682b023f2affae35?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">pahlevy191103</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.sriti.com/images/profile.gif" medium="image">
			<media:title type="html">Silakan Simak!</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.sriti.com/images/home.gif" medium="image">
			<media:title type="html">Silakan Kunjungi Situsnya!</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kasih Ibu Sepanjang Masa</title>
		<link>http://pahlevy191103.wordpress.com/2010/01/23/kasih-ibu-sepanjang-masa/</link>
		<comments>http://pahlevy191103.wordpress.com/2010/01/23/kasih-ibu-sepanjang-masa/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 23 Jan 2010 23:05:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pahlevy191103</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita-Cerita]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta Kasih]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi Diri]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pahlevy191103.wordpress.com/?p=685</guid>
		<description><![CDATA[SUATU hari, saya tertegun membaca sebuah tulisan yang tertempel di dinding informasi majalah gontor. Sebuah kisah ibu dan anaknya, yang entah siapa dan dari mana asal tulisan tersebut, tapi isi tulisannya tersirat makna yang mampu membuat hati siapa saja yang membacanya sangat tersentuh. Dikisahkan, seorang ibu meminta tolong anaknya untuk membantunya mengerjakan beberapa pekerjaan rumah. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pahlevy191103.wordpress.com&amp;blog=10803553&amp;post=685&amp;subd=pahlevy191103&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>SUATU hari, saya tertegun membaca sebuah tulisan yang tertempel di dinding informasi majalah gontor. Sebuah kisah ibu dan anaknya, yang entah siapa dan dari mana asal tulisan tersebut, tapi isi tulisannya tersirat makna yang mampu membuat hati siapa saja yang membacanya sangat tersentuh.</p>
<p>Dikisahkan, seorang ibu meminta tolong anaknya untuk membantunya mengerjakan beberapa pekerjaan rumah. Kebetulan hari itu, ia harus menghadiri acara keluarga. Maka diambil secarik kertas, ditulisnya apa yang harus dikerjakan si anak, dan kemudian ditempel di pintu lemari es, agar pesan yang disampaikannya terbaca oleh si anak.<span id="more-685"></span></p>
<p>Menjelang sore si ibu hadir kembali di rumah, kemudian ia membaca secarik kertas yang tertempel di dinding lemari es, nampak tulisan si anak yang tersusun rapi.</p>
<p>copied :http://artnya.multiply.com</p>
<p>1. Cuci Piring:         Rp. 10.000,-<br />
2. Ngepel:               Rp. 20.000,-<br />
3. Cuci Baju:           Rp. 45.000,-<br />
4. Seterika:             Rp. 30.000,-<br />
5. Masak Nasi:        Rp. 15.000,-<br />
6. Siram Tanaman:  Rp. 20.000,-</p>
<p>Raut wajah si ibu nampak biasa saja setelah membaca tulisan sang anak, sangat tenang. Kemudian ia kembali mengambil kertas kosong, menulis dan menempel kembali di pintu lemari es.</p>
<p>Sejurus kemudian sang anak terbangun dari tidurnya, dengan santai ia menuju lemari es karena nampak haus sekali. Ia lihat ada secarik kertas dan kemudian membacanya.</p>
<p>1. Mengandung Kamu 9 Bulan: Rp. 0,-<br />
2. Menyusui Kamu Selama 2 Tahun: Rp. 0,-<br />
3. Menunggui Kamu Siang-malam Saat Bayi: Rp. 0,-<br />
4. Membawa Kamu ke Dokter Ketika Sakit: Rp. 0,-<br />
5. Menyekolahkan Kamu: Rp. 0,-</p>
<p>Setelah membacanya, nampak sang anak termenung dan butir-butir air matanya mulai mengalir membasahi pipi, sebuah penyesalan yang sangat dalam. Tanpa tunggu waktu, ia bergegas mencari ibunya, bersimpuh di kakinya sambil mencium dan meminta maaf.<br />
Dengan penuh kasih sayang, si ibu meraih tangan si anak, mengangkatnya serta memeluknya, sambil membisikkan kata &#8220;Ibu selalu memaafkanmu sampai kapanpun, karena kamu adalah mutiara bagi ibu&#8221;. Dipandangi wajah anaknya dengan senyum, lalu ia berkata &#8220;sekarang bergegaslah kamu berwudhu, sebentar lagi maghrib datang, kita sholat bersama memohon kepada Allah agar senantiasa diberikan kekuatan, kesabaran, kesehatan serta ridho-Nya&#8221;. Amin.</p>
<br />Posted in Cerita-Cerita, Cinta Kasih, Motivasi Diri Tagged: Cerita Motivasi, Cinta Kasih, Motivasi <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pahlevy191103.wordpress.com/685/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pahlevy191103.wordpress.com/685/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pahlevy191103.wordpress.com/685/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pahlevy191103.wordpress.com/685/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pahlevy191103.wordpress.com/685/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pahlevy191103.wordpress.com/685/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pahlevy191103.wordpress.com/685/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pahlevy191103.wordpress.com/685/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pahlevy191103.wordpress.com/685/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pahlevy191103.wordpress.com/685/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pahlevy191103.wordpress.com/685/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pahlevy191103.wordpress.com/685/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pahlevy191103.wordpress.com/685/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pahlevy191103.wordpress.com/685/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pahlevy191103.wordpress.com&amp;blog=10803553&amp;post=685&amp;subd=pahlevy191103&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pahlevy191103.wordpress.com/2010/01/23/kasih-ibu-sepanjang-masa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2742147182cd8818682b023f2affae35?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">pahlevy191103</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Syukur Mengubah Hidup Anda</title>
		<link>http://pahlevy191103.wordpress.com/2010/01/18/syukur-mengubah-hidup-anda/</link>
		<comments>http://pahlevy191103.wordpress.com/2010/01/18/syukur-mengubah-hidup-anda/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Jan 2010 11:25:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pahlevy191103</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita-Cerita]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta Kasih]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi Diri]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Management Diri]]></category>
		<category><![CDATA[Menjadi Yang Terbaik]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pahlevy191103.wordpress.com/?p=680</guid>
		<description><![CDATA[Syukur, suatu kata yang sangat berbobot dan memberikan makna yang tidak terhingga. Allah telah menjamin dalam Al Quran, barang siapa yang bersyukur maka Allah akan menambah nikmat kepada orang tersebut. Sudahkan Anda bersyukur? Sudahkah Anda merasakan tambahan nikmat atas syukur Anda? Apakah Anda ingin mendapatkan nikmat yang lebih besar lagi? Lupakan mengeluh, mulailah perbanyak syukur. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pahlevy191103.wordpress.com&amp;blog=10803553&amp;post=680&amp;subd=pahlevy191103&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Syukur, suatu kata yang sangat berbobot dan memberikan makna yang tidak terhingga. Allah telah menjamin dalam Al Quran, barang siapa yang bersyukur maka Allah akan menambah nikmat kepada orang tersebut. Sudahkan Anda bersyukur? Sudahkah Anda merasakan tambahan nikmat atas syukur Anda? Apakah Anda ingin mendapatkan nikmat yang lebih besar lagi? Lupakan mengeluh, mulailah perbanyak syukur.</strong></p>
<p><a href="http://pahlevy191103.files.wordpress.com/2010/01/syukur.jpeg"><img class="alignleft size-full wp-image-681" title="syukur" src="http://pahlevy191103.files.wordpress.com/2010/01/syukur.jpeg" alt="" width="160" height="120" /></a>Ada dua manfaat besar dari bersyukur. Kedua manfaat ini akan mengubah hidup kita jika kita mendapatkannya.</p>
<ol>
<li>Pahala dari Allah. Jelas, bersyukur adalah perintah Allah, kita akan mendapatkan pahala jika kita bersyukur dengan ikhlas.</li>
<li>Menciptakan <em>Feeling Good</em>. Dengan bersyukur akan membuat kita lebih bahagia. Perasaan kita menjadi lebih enak dan nyaman dengan bersyukur. Bagaimana tidak, pikiran kita akan fokus pada berbagai kebaikan yang kita terima.</li>
</ol>
<p><strong>Lalu apa manfaat Feeling Good?</strong></p>
<ul>
<li>Jika Anda yang percaya dengan Hukum Daya Tarik (<em>law of attraction</em>), feeling good akan meningkatkan kekuatan Anda menarik apa yang Anda inginkan. Kekuatan hukum ini akan sebanding dengan keyakinan dan perasaan positif. Sementara semakin banyak kita bersyukur, akan semakin banyak perasaan positif pada diri kita.</li>
<li>Motivasi akan muncul dari kondisi emosi yang positif (dibahas lebih lanjut pada ebook saya Motivasi Diri). Sementara bersyukur akan menciptakan emosi yang positif karena kita fokus apda hal-hal yang positif. Semakin banyak Anda bersyukur akan semakin besar motivasi yang Anda miliki.</li>
<li>Bersyukur akan membentuk pola pikir sukses. Pola pikir sukses adalah keyakinan dalam mendapatkan. Saat kita bersyukur, maka pikiran kita secara tidak sadar diberikan suatu “pola” mendapatkan, sehingga akan terbentuk pola sukses.<span id="more-680"></span></li>
</ul>
<p>Dengan melihat ketiga manfaat dari feeling good, kita bisa menyimpulkan bahwa feeling good adalah mungkin menjadi salah satu cara Allah memberikan nikmat tambahan kepada kita. Jika orang baru ribut dengan manfaat syukur pada kahir-akhir ini, Al Quran sudah 14 abad yang lalu. Sungguh suatu nikmat Allah yang diberikan kepada kita, sayang jika kita mengabaikannya.</p>
<p><strong>Cara Meningkatkan Syukur</strong><br />
Saya yakin, Anda yang mau membaca artikel ini adalah orang-orang yang pandai bersyukur. Namun bukan berarti kita tidak perlu meningkatkan. Setinggi apa pun Anda menjadi hamba yang bersyukur, Anda masih tetap perlu meningkatkan syukur Anda. Jika Anda baru bersyukur saat menambatkan nikmat berupa materi, ini adalah baru tahap awal menjadi hamba yang pandai bersyukur.</p>
<ul>
<li>Untuk meningkatkan rasa bersyukur, kita harus lebih jeli dan peka terhadap berbagai nikmat yang diberikan Allah kepada kita. Kurangnya kepekaan terhadap nikmat Allah akan mengurangi syukur kita, sebab kita merasa tidak ada yang perlu disyukuri lagi. Meningkatkan kepekaan bisa dilakukan dengan melakukan perenungan terhadap apa yang terjadi pada hidup kita sehari-hari. Luangkan waktu Anda setiap hari untuk merenungkan nikmat setiap harinya.</li>
<li>Setiap saat, kita mendapatkan nikmat baru. Satu detik waktu berlalu berarti kita mendapatkan nikmat hidup selama satu detik. Nafas kita, penglihatan kita, penciuman kita, detak jantung kita dan sebagainya yang tidak mungkin disebutkan disini.</li>
<li>Selalu ada hikmah dari setiap kejadian, baik kejadian pad diri sendiri maupun orang lain. Sementara setiap saat selalu ada kejadian, berarti selalu ada hikmah yang bisa kita ambil. Sementara hikmah adalah suatu nikmat. Syukurilah.</li>
</ul>
<p>Sudahkah kita bersyukur hari ini?</p>
<p>copied by:http://motivasi-islami.com</p>
<br />Posted in Cerita-Cerita, Cinta Kasih, Motivasi Diri Tagged: Cerita Motivasi, Cinta Kasih, Management Diri, Menjadi Yang Terbaik, Motivasi <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pahlevy191103.wordpress.com/680/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pahlevy191103.wordpress.com/680/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pahlevy191103.wordpress.com/680/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pahlevy191103.wordpress.com/680/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pahlevy191103.wordpress.com/680/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pahlevy191103.wordpress.com/680/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pahlevy191103.wordpress.com/680/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pahlevy191103.wordpress.com/680/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pahlevy191103.wordpress.com/680/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pahlevy191103.wordpress.com/680/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pahlevy191103.wordpress.com/680/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pahlevy191103.wordpress.com/680/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pahlevy191103.wordpress.com/680/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pahlevy191103.wordpress.com/680/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pahlevy191103.wordpress.com&amp;blog=10803553&amp;post=680&amp;subd=pahlevy191103&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pahlevy191103.wordpress.com/2010/01/18/syukur-mengubah-hidup-anda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2742147182cd8818682b023f2affae35?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">pahlevy191103</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://pahlevy191103.files.wordpress.com/2010/01/syukur.jpeg" medium="image">
			<media:title type="html">syukur</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Seni Berbicara Di Depan Umum</title>
		<link>http://pahlevy191103.wordpress.com/2010/01/18/seni-berbicara-di-depan-umum/</link>
		<comments>http://pahlevy191103.wordpress.com/2010/01/18/seni-berbicara-di-depan-umum/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Jan 2010 11:21:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pahlevy191103</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita-Cerita]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi Diri]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Management Diri]]></category>
		<category><![CDATA[Menjadi Yang Terbaik]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pahlevy191103.wordpress.com/?p=677</guid>
		<description><![CDATA[Pernahkan anda melihat Seorang presiden berbicara dalam sebuah pidato kenegaraan , atau seorang motivator/Trainer  yang sedang menyemangati para audiensnya atau seorang dosen yang memberikan pembelajaran di kelas. Mereka adalah contoh dari Public Speaker ( pembicara di depan umum ) yang sering kita liat.  Di zaman sekarang ini, hampir di semua jenis lapangan pekerjaan, kita dituntut [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pahlevy191103.wordpress.com&amp;blog=10803553&amp;post=677&amp;subd=pahlevy191103&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pernahkan anda melihat Seorang presiden berbicara dalam sebuah pidato kenegaraan , atau seorang motivator/Trainer  yang sedang menyemangati para audiensnya atau seorang dosen yang memberikan pembelajaran di kelas. Mereka adalah contoh dari Public Speaker ( pembicara di depan umum ) yang sering kita liat.  Di zaman sekarang ini, hampir di semua jenis lapangan pekerjaan, kita dituntut untuk dapat berkomunikasi dengan  baik di depan umum.</p>
<p><a href="http://pahlevy191103.files.wordpress.com/2010/01/istock_000004506807xsmall2-300x299.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-678" title="istock_000004506807xsmall2-300x299" src="http://pahlevy191103.files.wordpress.com/2010/01/istock_000004506807xsmall2-300x299.jpg?w=150&#038;h=149" alt="" width="150" height="149" /></a>Pertanyaan berikutnya yang perlu kita tanyakan dalam diri kita masing masing adalah bagiamana cara kita untuk menjadi seorang public speaker yang baik ?? apakah setiap orang bisa menjadi seorang public speaker yang baik ??</p>
<p><strong><em>Setiap orang tentu bisa menjadi seorang pembicara yang baik di depan umum </em></strong>walaupun dengan bakat, potensi dan gaya yang berbeda dari individu masing – masing. Namun hal itu bukanlah suatu permasalahan yang serius untuk dikhawatirkan karena semua itu tergantung dari bagaimana niat kita untuk mengembangkan potensi berkomunikasi dalam diri kita. Dengan memahami bahwa setiap orang adalah unik dan berbeda dalam hal komunikasi karena memiliki tipe dan gaya sendiri-sendiri, kita akan menjadi pemberi kesan mendalam kepada setiap orang dalam rentang waktu yang relatif lebih lama.<span id="more-677"></span></p>
<p>Rintangan terberat dari  kebanyakan orang yang belum terbiasa untuk berbicara di depan umum ialah <strong><em>rasa gugup dan takut</em></strong> ketika ingin melakukannya. Mereka merasa tidak percaya diri ketika tampil dan berbicara di depan banyak orang. Cara untuk mengalahkan ketakutan dalam diri  :</p>
<ul>
<li>Kurung rasa ketakutan dengan menentukan secara persis apa yang menjadi ketakutan anda lalu tanyakan pada diri anda sendiri mengapa anda perlu takut karena hal itu.</li>
<li>Ambilah tindakan yang jelas untuk meredakan jenis ketakutan apapun yang berasal dari pikiran anda (Tindakan mengalahkan ketakutan sebaliknya kebimbangan dan penundaan memupuk rasa takut ), misalnya anda membandingkan diri anda dengan orang lain yang memiliki kelemahan sama namun berhasil sebagai seorang public speaker yang baik.</li>
</ul>
<p>Setelah dapat mengatasi rasa ketakutan dalam diri anda, anda harus menentukan tujuan anda berbicara. Seperti ketiga contoh diatas (Presiden, Motivator, serta dosen), mereka adalah pembicara yang memiliki tujuan yang berbeda satu sama lainnya. Pidato Kepresiden biasanya bertujuan untuk menghimbau atau memberitahukan suatu keputusan kepada masyarakat, motivator bertujuan untuk mempengaruhi, merayu dan membujuk para audiensnya untuk selalu bersemangat, dosen bertujuan untuk mengajarkan sesuatu yang baru kepada mahasiswanya ataupun seorang komedian seperti Tukul yang ingin menghibur para penontonnya.  <strong><em>Penentuan tujuan dari sebuah pembicaraan di depan umum berfungsi agar gagasan dan maksud dari pembicara dapat tersampaikan kepada audiens karena setiap tujuan memiliki cara penyampaian yang berbeda.</em></strong></p>
<p>Hal lain yang perlu juga untuk anda ketahui siapa audience yang mendengarkan anda dan dalam moment apa anda berbicara. Hal tersebut penting  agar anda dapat menyesuaikan tema apa yang akan anda bahas serta kata kata apa yang akan anda gunakan. Namun selalu anda ingat bahwa seorang pembicara yang baik selalu menggunakan kata kata atau frase yang positif, semangat dan riang untuk mengungkapkan perasaan anda secara <em>jujur</em> .</p>
<p>Setelah kedua hal itu dapat anda atasi, berikutnya hanyalah masalah teknis yang perlu anda ketahui, pelajari dan latih dengan sendiri, seperti bagaimana anda berpenampilan, bersikap dan berbicara.</p>
<p>copied by :http://topmotivasi.com</p>
<br />Posted in Cerita-Cerita, Motivasi Diri Tagged: Cerita Motivasi, Management Diri, Menjadi Yang Terbaik, Motivasi <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pahlevy191103.wordpress.com/677/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pahlevy191103.wordpress.com/677/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pahlevy191103.wordpress.com/677/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pahlevy191103.wordpress.com/677/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pahlevy191103.wordpress.com/677/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pahlevy191103.wordpress.com/677/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pahlevy191103.wordpress.com/677/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pahlevy191103.wordpress.com/677/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pahlevy191103.wordpress.com/677/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pahlevy191103.wordpress.com/677/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pahlevy191103.wordpress.com/677/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pahlevy191103.wordpress.com/677/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pahlevy191103.wordpress.com/677/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pahlevy191103.wordpress.com/677/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pahlevy191103.wordpress.com&amp;blog=10803553&amp;post=677&amp;subd=pahlevy191103&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pahlevy191103.wordpress.com/2010/01/18/seni-berbicara-di-depan-umum/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2742147182cd8818682b023f2affae35?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">pahlevy191103</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://pahlevy191103.files.wordpress.com/2010/01/istock_000004506807xsmall2-300x299.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">istock_000004506807xsmall2-300x299</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Leonardo da Vinci..</title>
		<link>http://pahlevy191103.wordpress.com/2010/01/18/leonardo-da-vinci/</link>
		<comments>http://pahlevy191103.wordpress.com/2010/01/18/leonardo-da-vinci/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Jan 2010 11:18:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pahlevy191103</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita-Cerita]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi Diri]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Management Diri]]></category>
		<category><![CDATA[Menjadi Yang Terbaik]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pahlevy191103.wordpress.com/?p=675</guid>
		<description><![CDATA[Leonardo da Vinci (15 April 1452 â€“ 2 Mei 1519) adalah arsitek, musisi, penulis, pematung, dan pelukis Renaisans Italia. Ia digambarkan sebagai arketipe “manusia renaisans” dan sebagai jenius universal. Leonardo terkenal karena lukisannya yang piawai, seperti Jamuan Terakhir dan Mona Lisa. Ia juga dikenal karena mendesain banyak ciptaan yang mengantisipasi teknologi modern tetapi jarang dibuat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pahlevy191103.wordpress.com&amp;blog=10803553&amp;post=675&amp;subd=pahlevy191103&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Leonardo da Vinci (15 April 1452 â€“ 2 Mei 1519) adalah arsitek, musisi, penulis, pematung, dan pelukis Renaisans Italia. Ia digambarkan sebagai arketipe “manusia renaisans” dan sebagai jenius universal. Leonardo terkenal karena lukisannya yang piawai, seperti Jamuan Terakhir dan Mona Lisa. Ia juga dikenal karena mendesain banyak ciptaan yang mengantisipasi teknologi modern tetapi jarang dibuat semasa hidupnya, sebagai contoh ide-idenya tentang tank dan mobil yang dituangkannya lewat gambar-gambar dwiwarna. Selain itu, ia juga turut memajukan ilmu anatomi, astronomi, dan teknik sipil bahkan juga kuliner. [Sumber: <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Leonardo_da_Vinci" target="_blank">http://id.wikipedia.org/wiki/Leonardo_da_Vinci</a>]</p>
<p><img title="Leonardo da Vinci" src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/b/ba/Leonardo_self.jpg/220px-Leonardo_self.jpg" alt="" width="220" height="345" /> Dalam buku <em>The Book of Genius</em>, Tony Buzan dan Raymond Keene menjelaskan bahwa Leonardo da Vinci adalah jenius terbesar sepanjang jaman. Da Vinci lebih jenius ketimbang Albert Einstein dan Sir Isaac Newton. Selama ini, kebanyakan orang mengenal Da Vinci sebagai pelukis dengan lukisan yang terkenalnya Mona Lisa. Ternyata bukan hanya itu, tetapi meliputi ahli ilmu anatomi, astronomi, dan teknik sipil bahkan juga kuliner.<span id="more-675"></span></p>
<p>Leonardo da Vinci juga adalah penemu, dia menyusun rancangan bagi mesin terbang, helikopter, parasut, dan banyak barang-barang yang mencengangkan seperti mesin air, mesin pembuat ulir baut, sepeda, kunci pas yang dapat disetel, hidrolik, panggung berputar, kincir air horizontal, mesin pres zaitun, dan kursi malas terapetik. Begitu juga, dia menciptakan berbagai mesin untuk perang.</p>
<p>Apa yang membuat Leonardo da Vinci begitu kreatif dan jenius? Ada 7 sikap yang melekat pada diri Leonardo da Vinci yang dijelaskan dalam sebuah buku <em>Hot to Think Like Leonardo da Vinci</em>, karya Michael J. Gelb. Kabar baiknya, Anda pun bisa mengembangkan ketujuh sikap yang akan membuat siapa pun menjadi orang yang kreatif dan jenius.</p>
<ol>
<li>Keingintahuan yang sangat besar. Selalu mencari dan mencari hal yang baru.</li>
<li>Memiliki keteguhan dalam menguji pengetahuan melalui pengalaman, ketekunan, dan kesediaan belajar dari kesalahan.</li>
<li>Penajaman indra secara terus menerus.</li>
<li>Kesediaan untuk menerima ketidakjelasan atau ketidakpastian.</li>
<li>Penggunaan otak yang seimbang, yaitu otak kiri dan otak kanan.</li>
<li>Pemanfaatan potensi tubuh yang benar.</li>
<li>Memiliki pemikiran yang sistematik.</li>
</ol>
<p>Kita bisa mengambil kesimpulan dari kehidupan Leonardo da Vinci, bahwa kejeniusan bukan karena bawaan sejak lahir, tetapi dari ketujuh sikap yang dia miliki. Jenius itu diciptakan, bukan dilahirkan. Anda dan juga semua manusia sebenarnya dikaruniai potensi yang sangat dahsyat oleh Allah SWT dalam belajar dan kreativitas. Hanya saja, kebanyakan manusia tidak mau mengoptimalkannya dengan sungguh-sungguh potensi yang telah dimiliki.</p>
<br />Posted in Cerita-Cerita, Motivasi Diri Tagged: Cerita Motivasi, Management Diri, Menjadi Yang Terbaik, Motivasi <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pahlevy191103.wordpress.com/675/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pahlevy191103.wordpress.com/675/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pahlevy191103.wordpress.com/675/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pahlevy191103.wordpress.com/675/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pahlevy191103.wordpress.com/675/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pahlevy191103.wordpress.com/675/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pahlevy191103.wordpress.com/675/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pahlevy191103.wordpress.com/675/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pahlevy191103.wordpress.com/675/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pahlevy191103.wordpress.com/675/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pahlevy191103.wordpress.com/675/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pahlevy191103.wordpress.com/675/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pahlevy191103.wordpress.com/675/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pahlevy191103.wordpress.com/675/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pahlevy191103.wordpress.com&amp;blog=10803553&amp;post=675&amp;subd=pahlevy191103&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pahlevy191103.wordpress.com/2010/01/18/leonardo-da-vinci/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2742147182cd8818682b023f2affae35?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">pahlevy191103</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/b/ba/Leonardo_self.jpg/220px-Leonardo_self.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Leonardo da Vinci</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Membangun Keyakinan Diri</title>
		<link>http://pahlevy191103.wordpress.com/2010/01/18/membangun-keyakinan-diri/</link>
		<comments>http://pahlevy191103.wordpress.com/2010/01/18/membangun-keyakinan-diri/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Jan 2010 11:17:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pahlevy191103</dc:creator>
				<category><![CDATA[Motivasi Diri]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Management Diri]]></category>
		<category><![CDATA[Menjadi Yang Terbaik]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pahlevy191103.wordpress.com/?p=672</guid>
		<description><![CDATA[Setiap orang yang dilahirkan pastilah memiliki bakat, kepintaran ataupun kemampuan yang relatif berbeda satu dengan yang lainnya. Namun terkadang mereka sulit untuk menemukan hal tersebut dalam dirinya  sehingga tidak dapat meraih prestasi yang maksimal. Bahkan terkadang seseorang mencoba membanding bandingkan kemampuan yang dimilikinya dengan orang lain hingga membuat mereka merasa rendah diri. Padahal sering kali [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pahlevy191103.wordpress.com&amp;blog=10803553&amp;post=672&amp;subd=pahlevy191103&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Setiap orang yang dilahirkan pastilah memiliki bakat, kepintaran ataupun kemampuan yang relatif berbeda satu dengan yang lainnya.</strong> <a href="http://pahlevy191103.files.wordpress.com/2010/01/eagle1-300x205.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-673" title="eagle1-300x205" src="http://pahlevy191103.files.wordpress.com/2010/01/eagle1-300x205.jpg?w=150&#038;h=102" alt="" width="150" height="102" /></a>Namun terkadang mereka sulit untuk menemukan hal tersebut dalam dirinya  sehingga tidak dapat meraih prestasi yang maksimal. Bahkan terkadang seseorang mencoba membanding bandingkan kemampuan yang dimilikinya dengan orang lain hingga membuat mereka merasa rendah diri. Padahal sering kali seseorang tidak bisa sukses bukan karena tidak memiliki bakat, kepintaran ataupun kemampuan tetapi karena mereka tidak memiliki rasa percaya diri dan mental yang baik.</p>
<p>Dalam hidup, terkadang kita terlalu cepat untuk menyerah. Ketika kesulitan ataupun hambatan datang menghalangi, kita cenderung untuk kembali ke zona nyaman kita. Padahal untuk  mencapai sebuah kesuksesan atau keberhasilan perlu sebuah kerja keras, ketahanan mental  dan persistensi tinggi. Dalam hal ini peranan keyakinan atau rasa percaya diri terhadap apa yang kita perjuangkan menjadi faktor besar penentu keberhasilan dalam hidup.<span id="more-672"></span></p>
<p>Jika kita melihat para juara dunia sejati, baik itu di bidang bisnis, ilmu pengetahuan, politik kenegaraan, pendidikan, atau bahkan seorang religius sekalipun, semuanya punya kepercayaan diri yang kuat. Kalau mereka gagal, mereka segera bangkit lagi. Mereka berani menentukan target, berani mulai melangkah dan berani berjuang mewujudkan keberhasilan. Mereka terus bertahan dan terus melangkah walaupun keberhasilan kelihatan jauh dari pandangan mata.</p>
<p>Salah satu cerita tokoh yang luar biasa adalah Kolonel Sanders. Pada waktu ia menawarkan resep rahasia ayam gorengnya kepada orang lain. Dibutuhkan lebih dari 1.000 kali penolakan sebelum dia berhasil menjual waralaba KFC pertamanya. Padahal usianya waktu itu terbilang sudah lanjut tetapi berkat usaha dan kerja kerasnya akhirnya ia berhasil untuk mewujudkan cita citanya.</p>
<p>Atau cerita tentang penemuan bola lampu pijar oleh Thomas A. Edison. Sebelum berhasil menemukan bola lampu, ia mengalami sembilan ratus sembilan puluh sembilan kegagalan dan baru pada percobaannya yang ke seribu ia berhasil menciptakan bola lampu pertamanya. Dan ketika ditanya dalam sebuah wawancara oleh Napoleon Hill,Mr Edison apa yang anda rasakan ketika mengalami 999 kegagalan?. Mr Edison menjawab,” maaf saya tidak pernah gagal, saya sudah menemukan 999 cara yang tidak boleh dilakukan untuk menciptakan sebuah bola lampu”. Sebuah kata luar biasa yang hanya bisa diucapkan oleh seseorang yang memiliki kepercayaan dan keyakinan diri yang tinggi terhadap apa yang ia kerjakan.</p>
<p>Dari cerita di atas memberikan inspirasi dan semangat kepada kita bahwa keyakinan atas pencapaian tujuan dan semangat pantang menyerah akan menjadi kunci penentu dalam keberhasilan hidup. Karena kita tak pernah tahu, kapan datangnya  kesuksesan. Mungkin kelihatan jauh, walaupun sudah begitu dekat. Keberanian untuk terus mencoba merupakan faktor kunci yang membedakan antara seorang yang gagal dengan orang yang berhasil meraih impiannya.</p>
<p>Coba sejenak anda pikirkan jika di tengah tengah perjuangan, mereka menyerah pada kegagalan dan tak melanjutkan apa yang menjadi cita citanya. Apakah yang akan mereka rasakan pada akhir hayatnya? Penyesalan atau kebahagiankah yang mereka rasakan?. Sekarang marilah kita tanyakan pada diri kita, apakah kita begitu mudah menyerah dan berhenti mencoba dalam usaha meraih impian yang kita inginkan dalam hidup? Jika anda merasa ragu untuk memperjuangkannya, tanyakan kembali pada diri anda, apakah impian anda merupakan sesuatu yang sungguh-sungguh pantas diperjuangkan dan  memberikan makna dalam hidup kita? Jika ya, maka pencapaian impian tersebut wajib anda perjuangkan. Jadikan impian itu suatu tanggung jawab, sesuatu yang akan kita sesali bila kita tidak pernah mencapainya. Lalu balut keyakinan tersebut dengan paradigma mencoba sekali lagi. Hambatan apa pun yang akan terjadi, kita selalu yakin dengan impian kita, lalu kita bangkit dan mencoba sekali lagi.</p>
<p>Dengan mengembangkan mental diri yang positif, maka kita akan memiliki kepercayaan diri yang kuat. Akhir kata, teruslah berjuang untuk meraih impian dan tujuan dalam hidup anda. Karena pada hakekatnya tidak ada keberhasilan yang sejati tanpa melalui sebuah proses kegagalan. Ketika kegagalan datang yakinlah bahwa anda sudah berada satu langkah semakin dekat dengan keberhasilan. Jangan biarkan ketakutan akan kegagalan menghilangkan tujuan sejati hidup anda.</p>
<p>copied by:http://topmotivasi.com</p>
<br />Posted in Motivasi Diri Tagged: Cerita Motivasi, Management Diri, Menjadi Yang Terbaik, Motivasi <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pahlevy191103.wordpress.com/672/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pahlevy191103.wordpress.com/672/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pahlevy191103.wordpress.com/672/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pahlevy191103.wordpress.com/672/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pahlevy191103.wordpress.com/672/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pahlevy191103.wordpress.com/672/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pahlevy191103.wordpress.com/672/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pahlevy191103.wordpress.com/672/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pahlevy191103.wordpress.com/672/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pahlevy191103.wordpress.com/672/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pahlevy191103.wordpress.com/672/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pahlevy191103.wordpress.com/672/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pahlevy191103.wordpress.com/672/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pahlevy191103.wordpress.com/672/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pahlevy191103.wordpress.com&amp;blog=10803553&amp;post=672&amp;subd=pahlevy191103&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pahlevy191103.wordpress.com/2010/01/18/membangun-keyakinan-diri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2742147182cd8818682b023f2affae35?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">pahlevy191103</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://pahlevy191103.files.wordpress.com/2010/01/eagle1-300x205.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">eagle1-300x205</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
