Pahlevy191103's Blog

"Setiap Manusia Adalah Guru..Dan Setiap Tempat Adalah Sekolah"

Cinta yang Dibungkus Kafan

Rosdiah memang pantas membuat setiap lelaki Desa Sattu tergila-gila. Rosdiah, tidak sebagaimana pada umumnya gadis-gadis lain di desa tersebut, kulitnya putih bersih. Wajahnya bundar persis bulan purnama yang sempurna. Jika sedang malu, terlihat tanda kemerah-merahan di pipinya.

Matanya akan berbinar-binar seperti bintang-gemintang bila diajak bicara. Itu menciptakan kesan bahwa di dasar matanya tersebut terdapat telaga keriangan.

Meski kerudung panjang dan baju kurung selalu rapi membungkus tubuh semampainya, tidak berarti tertutup keindahan pada tubuh itu. Toh cara berjalan remaja yang tahun ini baru saja menyelesaikan sekolah ibtidaiah melenggak-lenggok bak seorang peragawati.

Tidak ada yang tahu di mana Rosdiah mempelajari cara berjalan demikian. Apakah melalui tontonan di televisi? Apakah di kota saat dia berkunjung ke sana? Tidak ada warga desa yang mengetahui persis.

Bagi para lelaki, yang muda maupun yang telah beristri, itu bukan hal penting untuk diketahui. Bagi mereka jauh lebih penting memikirkan cara menarik hati Rosdiah. Menuntaskan hasrat yang selama ini terpendam dalam-dalam.

Atas desakan hasrat itu pula, Karaeng Beta mengikhlaskan dirinya dalam perjuangan yang teramat besar baginya di malam ini.

***

Sebenarnya Karaeng Beta tidak perlu merepotkan diri dengan melakukan semua itu. Kalau benar-benar mau dia akan mudah menjinakkan Rosdiah dengan harta yang dimiliki dan kebangsawanan yang dia sandang. Tentu Rosdiah, kedua orang tua, serta keluarga besarnya pun tidak akan sanggup menahan keinginan bersuamikan dan bermenantukan seorang karaeng. Harapan yang juga dipendam para gadis dan orang tua lainnya.

Tetapi Karaeng Beta punya pertimbangan lain. Dia tahu kalau bukan hanya dirinya yang kepincut kecantikan Rosdiah. Hampir semua lelaki di Desa Sattu menaruh hati padanya. Tidak terkecuali putra sulung wakil bupati dan anak remaja kepala kecamatan yang saban sore nongkrong di rumah Rosdiah. Bagi Karaeng Beta, kedua pemuda ini menjadi pesaingnya mendapatkan Rosdiah karena orang tua mereka adalah pejabat kabupaten.

Karena Karaeng Beta tahu bahwa setiap lelaki yang menaruh hati pada Rosdiah akan meminta bantuan Daeng Bonto, maka dia juga melakukan hal yang sama. Dia malah bersedia memberi upah lebih besar dari bayaran yang biasa diminta Daeng Bonto, dukun yang telah malang-melintang dan jarang gagal menangani urusan jodoh. Dengan bayaran lebih besar, ditambah janji bonus yang akan diserahkan kepada Daeng Bonto, Karaeng Beta mengusung keyakinan tinggi akan menjadi pemenang dalam persaingan memperebutkan Rosdiah. Read more »

23/01/2010 Posted by | Cerita-Cerita, Cinta Kasih, Motivasi Diri | , , | Comments Off

Apakah Aku Selingkuh?

Berkunjunglah di ranah ini lagi. Ingin kutemui segala bentuk ocehan filusufmu, humor estetismu, dan kritik agamismu. Tatap matamu yang berbinar melewati kaca mata bening sungguh amat kurindukan. Datanglah meski sekejap, seperti dulu, mengomentari judul buku yang tertarik kau beli.

Aku lupa nama lengkap penulis-penulis buku yang membuat Kita berkenalan. Yang kuingat aku menyapamu duluan Di sebuah rak paling sudut, di situ berjejer buku-buku sastra. Mungkin kala itu aku terpaksa melakukan sapaan padamu. Awalnya aku hanya mondar-mandir sambil menunggu kau habiskan membaca buku bagus itu. Lama sekali ini cewek, pikirku.

“Siang, mbak penggila buku Nadya ya?”

“Tidak juga, aku suka karena ia jujur dalam menulis. Dan Ia membeberkan seksualitas sedetil-detilnya. Dan menurut saya itu tidak terkesan Vulgar seperti yang dikatakan banyak orang”

“Emm.. saya tidak bertanya sedetil itu kok. Oh ya.. saya Surya”

“Saya Yuana” telapakmu sungguh halus. Tak seperti kertas, tapi kapas.

Kekesalanku redam karena sikap ramah yang membuatmu tambah cantik. Penampilanmu yang tak seperti kekasihku, menghanyutkan, membuat aku ingin mengenalmu lebih.

Entah kebetulan atau tidak, kita sering bertemu, mengobrolkan kenapa tak ada karya Nadya yang baru, kenapa buku Anton Chekov cepat habis terbeli, mengapa karya Chairil Anwar masih tetap laku. Setelah mengeruk hal-hal tentang penulis terkenal, biasanya kita akan membahas apa itu manusia, apakah Tuhan telah mati seperti yang dikatakan Nietche, apakah moral dapat membasmi kejahatan. Oh.. sungguh obrolan yang mencerahkan. Read more »

23/01/2010 Posted by | Cerita-Cerita, Cinta Kasih, Motivasi Diri | , , , | Comments Off

Perempuan Hujan

“AKU suka hujan,” kata perempuan di sebelah Bram, bak nyeletuk.

“Ya?” Bram menengok. “Oh, mengapa begitu?” susulnya buru-buru.

“Gemeretak suara hujan di atas genteng selalu membawaku ke mana-mana,” kata perempuan itu.

“Maksudmu, hujan membuatmu ingin muter-muter keliling kota?”

“Bukan.” Perempuan itu tersenyum, bagai baru sadar tak bicara ke diri sendiri. Kulitnya bersih, kuning dekat ke putih. Matanya tampak bagus. “Hujan membawaku ke masa lalu yang indah. Ke masa depan yang juga indah,” dia bilang.

“O.” Bram manggut-manggut, balas tersenyum.

Saat itu mereka di rumah kawan yang merayakan ulang tahun perkawinan dan gerimis tiba-tiba turun di luar. Perempuan itu teman nyonya rumah, Bram kawan tuan rumah. Di situ keduanya berkenalan.

Empat, atau lima hari kemudian Jakarta kembali basah. Kali ini benar-benar karena hujan, tidak lagi sekadar gerimis. Padahal sebelumnya cerah, tak tampak gabak di hulu bak disebut-sebut petuah lama itu. Bram dalam perjalanan pulang dan tiba-tiba dia teringat perempuan itu. “Halo, Ria,” sapanya di HP. “Ini saya, Bram. Apa kabar?”

“Baik. Bang Bram bagaimana, sehat?”

“Baik, sehat. Saya lagi di jalan. Kamu di mana?”

“Di rumah.”

“Lo, sudah pulang kantor?”

“Memang tidak masuk. Lagi malas.”

Bram ikut ketawa. Lalu, “Di sini hujan,” ia bilang. “Di tempatmu bagaimana?”

“Ini sedang deras-derasnya.”

“Oh. Saya tidak mengganggu perjalananmu bersama hujan, kan?”

“Belum berangkat.” Perempuan itu tertawa. “Malah bisa ditunda jika ada yang mampir.”

Bram mampir. Ya, di tengah hujan begitu. Pakaian dan rambutnya basah sebab dia harus berlari dari pinggir jalan ke rumah Ria, tetapi perempuan itu menyambutnya cerah, tidak seperti hari menyambut senja dengan hujan beserta langit yang muram-basah. Mata perempuan itu pun makin bagus saat bercakap. Dada Bram kian berdebar melihatnya. Aku tahu aku menyukai perempuan ini, bisik laki-laki itu di hati. Dan itu karena matanya. Read more »

23/01/2010 Posted by | Cerita-Cerita, Cinta Kasih, Motivasi Diri | , , | Comments Off

Maafkan Aku,MembiarkanMu Menunggu

Tanggal 2 February lalu, sekali lagi, aku menginjakkan kakiku di negeri Menara Kembar Petronas (The Twin Towers) Kuala Lumpur, Malaysia. Kira-kira, pukul 9:30 pagi,   aku dan seorang ibu memasuki bandara KLIA (Kuala Lumpur International AirtPort).

Berhubung karena orang yang ditugaskan menjemput kami belum datang, maka kami masuk di sebuah restoran untuk sarapan. Maklum, kami tidak sempat sarapan sebelum berangkat. Tetapi, malangnya, sudah hampir 1 jam kami menghabiskan makanan, penjemput yang ditunggu-tunggu belum juga datang. Akhirnya, kami keluar dari restoran itu. Dan, tidak lama kemudian, orang yang ditugaskan menjemput kami menelpon kalau dia berhalangan datang karena adanya urusan penting. Dan, katanya dia sudah menyuruh orang lain untuk menjemput kami.

Sekali lagi, kami menunggu. Saya dan Ibu Ivy duduk di sebuah besi panjang (yang memang diperuntukkan sebagai tempat duduk) sambil memandang hilir mudik orang-orang yang datang dan pergi, silih berganti.

Tiba-tiba, seorang ibu yang memakai baju kurung (Istilah orang Malaysia untuk pakaian yang sewarna berpasangan/baju lengan panjang dengan rok panjang) menghampiri saya dan mengatakan sesuatu yang tidak jelas terdengar di telingaku. Entah apa yang ditanyakan? Seperti biasa, jika kambuh penyakit egoisku (hehehe… :P ), saya menjawab, “Tidak!” Ya, kata itu meluncur begitu saja dari mulutku. Begitulah kalau saya ingin mempersingkat dialog :D

Mungkin, karena ibu itu merasa kalau apa yang dia inginkan tidak mungkin beliau temukan pada diriku, maka dia memilih melangkah agak jauh dari tempatku, duduk. Kembali aku larut dalam pemandangan tadi (hilir mudik mobil dan orang lalu lalang yang entah kapan mencapai tahap keletihannya). Aku dan Ibu Ivy sama-sama diam. Seakan-akan orang akan kehabisan bahan bicara jika sudah jemu menunggu. Padahal, sejak di pesawat tadi, tidak henti-hentinya kami bersembang. Sedangkan, ibu itu berdiri tanpa melepaskan pegangan tangannya dari koper rodanya yang berwarna biru kehitam-hitaman.

Orangnya pendek dan kulitnya agak hitam. Rambutnya keriting dan pendek. Matanya agak cekung. Orangnya kurus. Sandal tipis berwarna hitam mengalasi kaki-kakinya yang mulai menampakkan ketuaan. Beliau memakai baju kurung berawarna hijau muda menyala. Bagiku, beliau mampu memadankan busana-busana yang dipakainya dengan potongan tubuhnya.

Tidak lama kemudian, datang sepasang anak muda berdiri di sampingnya. Beliau tetap menatap jalanan. Dalam hati, aku begitu yakin, kalau nasibku sama persis dengan nasibnya, yaitu menunggu. Menunggu penjemput yang katanya akan datang menjemput kita, tetapi malah dia yang di jemput. :D

“Lin, saya beli newspaper dulu ya! Mau ikut?”
Aku hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum masam menanggapi pertanyaan Ibu Ivy. Ya, aku akui, aku sudah amat letih menunggu. Namun, keletihanku itu beralih ketika samar-samar terdengar percakapan dari ibu tadi dengan sepasang anak muda yang berdiri di sampingnya.
“…Pukul berapa dia janji nak datang menjemput Mak Cik?” tanya Sang Pemuda
“… asal saya sudah sampailah!” jawabnya.
”Mak Cik punya nombor teleponnya tak?” tanya Sang Pemuda lagi.
“Ada, tetapi bukan dia yang punya. Punya jirannya…” jawab beliau.
“O…!” hanya huruf itu yang keluar dari mulut Sang Pemuda tadi.

Namun, nampaknya, Sang Ibu masih ingin bercerita, tetapi pemuda itu sudah mulai mengalihkan perhatian ke jalanan. Lalu, Ibu itu mencoba berkomunikasi dengan Sang Gadis. Mereka pun ngobrol. Entah apa yang mereka obrolkan? Aku sudah tidak mendengarkannya. Apalagi, saat itu, Ibu Ivy memberiku surat kabar. Media yang banyak mengelu-elukan PM Malaysia, Datuk Sri Abdullah Ahmad Badawi. Di halaman berikutnya, “Seorang warga Indon ditangkap polis karena memilki kartu pengenalan palsu”. Ada juga berita pemerkosaan. Dan, tidak lupa pula, berita seorang anak kecil (kalau tidak salah berumur 9 tahun) dinyatakan hilang alias diculik. Masih banyak berita dalam negeri. Dan, di halaman terakhir, berita olahraga.

Kembali saya memalingkan wajah memandang tempat Sang Ibu tadi berdiri. Beliau masih di sana. Sedangkan, sepasang anak muda tadi sudah melangkah pergi. Timbul rasa kasihan dan rasa penasaran dalam dadaku. Aku berdiri, lalu menghampirinya. Kuberanikan diri bertanya, “Ibu sedang menunggu anaknya ya?”
“Iya!” jawabnya sambil menatapku
“Pukul berapa katanya dia hendak datang menjemput ibu?”
“Dia cakap, saat aku sampai, dia pun datanglah!” jawabnya dengan logat Melayu Malatsianya yang kental. Huruf  akhiran ‘a’ berubah bunyi jadi ‘e’.
“Ibu sudah menelponnya?” tanyaku
“Tak!” jawabnya sambil menggelengkan kepala.
“Ibu punya nomor telepon anak ibu?” tanyaku lagi
“Ada. Tapi…, ” beliau tidak melanjutkan kata-katanya.

Aneh. Dia mempunyai nomor telepon, kenapa tidak dihubungi saja? Menanyakan persoalannya. Sudah berjam-jam, beliau berdiri menunggu. Tiba-tiba, akalku menebak sesuatu. Sehingga membuat bibriku bergerak lagi bertanya, “Ibu punya HP?” tanyaku. Read more »

23/01/2010 Posted by | Cerita-Cerita, Cinta Kasih, Motivasi Diri | , , | Comments Off

Seorang Ibu Menunggu

Sehembus angin menghambur-hamburkan debu, dedaunan layu dan ceceran kertas di halaman rumahnya ketika suatu sore ia menemani suaminya bercengkerama di beranda. Terdengar bunyi gemeresak yang ribut. Mendengar bunyi itu, ingatannya terseret kembali ke detik-detik menegangkan bertahun-tahun lalu, ketika ia berdiri di pintu dengan cemas sementara azan maghrib menjengkali setiap penjuru udara. Namun, seperti biasa, suaminya selalu saja membuyarkan saat-saat menggetarkan itu.
Sudahlah. Jangan lagi kau kenang-kenang anak bengal itu. Nanti kau sakit,? kata suaminya dengan ketus.

?Tapi dia anak kita, Yah,? jawabnya lirih.

Suaminya mendengus. ?Apa faedahnya menunggu anak durhaka seperti itu? Berapa tahun sudah dia tak pulang, tak berkirim sekadar kabar? Toh kalau dia kembali, kau dan aku juga sudah menjadi terlalu tua dan semakin dekat dengan kuburan. Dia tak akan membuat kita kembali menjadi muda. Huh, anak durhaka seperti itu. Kenapa tak kau kutuk saja dia jadi batu seperti Si Malin??

Ia menunduk dan diam. Selalu begitu. Setiap kali ia dan suaminya bersilang pendapat, ia selalu mengalah. Ia tak pernah berani membayangkan sebuah pertengkaran antara ia dan suaminya, meski ia marah sekali dengan keketusan suaminya barusan dan rasanya ia ingin membentak laki-laki itu: ?Biar begitu, dia tetap anakku! Anakku!?

Rasanya ingin ia menyangkal: kau laki-laki, tak tahu betapa aku senantiasa kembali menjadi muda setiap kali terkenang anakku tersayang mengompol, atau menangis malam-malam lantaran lapar, atau ketika ia memainkan puting susuku sambil tertawa-tawa.

Dan seorang ibu tak akan pernah mengutuk anaknya menjadi batu, bahkan bila anak itu durhaka. Bagi seorang ibu, anak tetap anak. Titik.

Namun, ia tetap membungkam. Di dalam hatinya, ia membui kemarahan rapat-rapat seperti penjahat hingga setiap kali suaminya pulang, ia selalu menjadi istri yang menyenangkan dan berbakti. Ia telah kehilangan anaknya. Ia tak mau kehilangan lagi.

Seluruh hidupnya telah ia pasrahkan kepada dua orang laki-laki itu: suami dan anak laki-lakinya. Kalau suaminya marah, bisa-bisa suaminya meninggalkan rumah dan mencari rumah lain. Ia bukannya tak tahu bahwa selama ini suaminya kadang-kadang menginap di sebuah rumah yang lain. Namun, ia tak pernah memasalahkan hal itu.
Yang penting baginya adalah bahwa suaminya itu selalu menjadi suami yang baik di rumah.

Apakah anak itu, seperti kata suaminya, memang telah menjadi durhaka dan tak akan pernah kembali? Jika ya, maka anak itu tak pernah tahu bahwa makna kata ibu dalam segala bahasa adalah sabar dan ketegaran menunggu. Dan kasih Ibu, sebenarnya, tak hanya seluas samudera. Berapakah luas samudera? Orang bisa mengukurnya dengan meter atau mil, tetapi perkakas apapun tak akan sanggup menera berapa Kasih Ibu.

Suatu pagi, ketika membersihkan gudang belakang, ia menemukan sebuah layang-layang rusak. Kertas layang-layang itu compang-camping dan warna gambarnya telah pudar. Benda itu bersandar lesu di dinding, terhimpit kaki sebuah meja tua.

Ia tercenung sejenak, lalu meletakkan sapunya dan menarik layang-layang itu dengan hati-hati. Serbuk-serbuk kuning luruh dari layang-layang itu, menimpa kakinya, dan sebagian hinggap di bajunya. Ketika ia menepuk-nepuk bajunya, serbuk-serbuk itu berhamburan di udara dan membikin ia bersin-bersin. Read more »

23/01/2010 Posted by | Cerita-Cerita, Cinta Kasih, Motivasi Diri | , , | Comments Off

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.